Media Tanam Kultur Jaringan

Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan didalam pembuatan media tanam vacin dan went adalah :
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktek pembuatan media tanam.
2. Larutkan 30 gram gula pasir /1000 ml media dalam gelas piala atau panci
enamel sebanyak sesuai dengan banyaknya media yang dibuat.


3. Ambil dan tuang larutan stock garam satu persatu dalam wadah no 2 tersebut diatas secara hati – hati dan sambil aduk atau digoyang, dengan urutan seperti tabel 2 atau 3, sejumlah sesuai banyaknya media yang akan dibuat dengan berpedoman pada hasil perhitungan yang telah diperoleh pada praktikum sebelumnya.
4. Sambil aduk tambhakan zat pengatur tumbuh dan vitamin sesuai kebutuhan.
5. Sambil aduk tambahkan aquades sampai volume larutan mendekati 1000 ml.
6. Kupas kentang dan cuci, ditimbang 100 gram kemudian blender sampai halus
7. Dan saring.
8. Ukur pH meter digital dan jika pH Basa tambahkan sesuatu yang asam yaitu HCL 5 N, sedangkan pH yang asam ditambahkan sesuatu yang basa yaitu NaOH 5 N. pH yang diinginkan untuk pembuatan media ini adalah 5,7
9. Sambil aduk tambahkan agar – agar yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan. Tambahkan volume air menjadi 1000 ml.
10. Aduk trus, panaskan larutan tersebut pada kompor, sampai agar – agar larut benar.
11. Tuangkan media yang masih encer kedalam botol kultur yang telah siap.
12. Tutup botol tersebut pada aluminium foil, dan ikat dengan karet gelang.
13. Sterilkan media pada autoclap, pada suhu 121o C dengan tekanan 17,5 psi selama 30 – 1 jam sesuai banyaknya volume yang ada.
14. Angkat dan letakkan pada lemari penyimpanan.
15. Cuci alat yang telah digunakan.

Pembuatan media kultur
Pembuatan media kultur memerlukan peralatan gelas yang bersih, air berkualitas tinggi, bahan kimia murni, dan pengukuran semua bahan-bahan media yang hati-hati. Penggunaan peralatan gelas yang bersih merupakan hal terpenting. Air double destilasi biasanya digunakan untuk tujuan penelitian, sedangkan akuades (air deionisasi) diguinakan untuk pembuatan media kultur jaringan pada skala komersial.Jangan menggunakan air kran untuk pembuatan media kultur. Bahan-bahan kimia yang digunakan harus yang tingkat analitik (analytical grade) kecuali untuk sukrosa.
Media kultur harus berisi hara makro dan mikro yang dibutuhkan untuik pertumbuhan tanaman, demikian pula sumber karbohidrat, vitamin, agar dan ZPT atau ekstrak tanaman yang diperlukan. Media kultur yang paling banyak digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS), yang pada awalnya dikembangkan untuk kultur tembakau tetapi ternyata cocok untuk berbagai jenis tanaman. Beberapa prosedur yang penting dalam pembuatan media adalah pembuatan larutan stok dan sterilisasi media.
Namun media vacin dan went sekarang ini dipakai dalam kultur in vitro.
Penggunaan larutan stok dalam pembuatan media akan mengurangi jumlah perkejaan yang sifatnya berulang-ulang, sehingga kesalahan manusia atau percobaan (human atau experimental error) dapat dikurangi. Selain itu, penimbangan secara langsung dari bahan-bahan pembuat media, seperti hara mikro dan ZPT, yang membutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit (miligram atau mikrogram) pada formulasi akhir tidak akan diperoleh secara akurat. Oleh karena itu sudah menjadi prosedur baku untuk komponen-komponen tersebut dibuat dalam larutan stok.
Untuk membuat larutan stok, senyawa-senyawa yang dibutuhkan ditimbang dan diletakkan pada gelas ukur bersih. Kepekatan larutan stok umumnya dibuat antara 10-1000 kali, tergantung pada daya larut dari senyawa-senyawa yang akan dilarutkan. Sebelum ditambahkan dengan air destilasi, beberapa bahan kimia ada yang harus dilarutkan dahulu dengan pelarut etil alkohol, 1 N NaOH atau 1 N HCl dalam jumlah yang kecil atau beberapa tetes. Selanjutnya air detilasi ditambahkan secara perlahan sampai volume yang diinginkan. Jangan lupa pada wadah/botol larutan diberi label berisi nama larutan, tanggal pembuatan dan kadaluarsa, dan nama orang yang membuatnya. Untuk beberapa bahan tertentu, misalnya IAA, stok larutannya harus disimpan dalam botol gelap untuk mencegah dekomposisi oleh cahaya.



Reaksi: 

Unsur Desirable

Kesuburan tanah merupakan faktor vital yang turut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Namun demikian, saat ini petani belum memiliki pedoman khusus untuk mengetahui apakah suatu tanah masih subur atau tidak. Untuk itu dengan beberapa pengujian yang dapat dilakukan pada uraian ini setidaknya dapat menjadi sebuah pedoman sementara untuk mengindikasikan tingkat kesuburan suatu lahan sebelum alat test kesuburan tanah tersebut dapat diadopsi.


Tanah merupakan medium untuk kelangsungan hidup makluk di bumi. Tanah tersusun dari lima penyusun utama yaitu: Bahan bahan mineral, Air, Udara, Bahan organik dan jasad renik. Dalam komposisi penyusun tanah tersebut terdapat mineral dan unsur unsur yang sangat diperlukan bagi makluk hidup terutama tanaman. Unsur dan mineral tersebut ada yang mutklak diperlukan tanaman misalnya oksigern, nitrogen dll, dan ada yang hanya menunjang pertumbuhannya saja, dalam artian, walaupun tanpa adanya unsur tersebut, tumbuhan masih tetap bisa hidup.
Unsur hara makro dan mikro adalah unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman. Tanpa unsur tersebut dapat dipastikan bahwa tanaman tidak akan bisa tumbuh dengan optimal. Dan ada lagi unsur yang bisa membantu kelangsungan hidup tanaman adalah unsur desirable. Unsur desirable adalah unsur yang bisa membantu kehidupan tanaman, namun tidak semua tanaman membutuhkan unsur tersebut, hanya tanaman tertentu saja yang menggunakan unsur ini. Sebenarnya walaupun tanpa adanya unsur ini tanaman akan tetap bisa hidup. Contoh tanaman yang menggunakan unsur desirable adalah tanaman tebu, tanaman tebu menggunakan unsur desirebel berupa silikatuntuk menunjang kelangsungan hidupnya, yaitu untuk memperbanyak dan mempertajam bulu bulu daun, dengan demikian hama pengganggu akan bisa dikendalikan.
Pada umumnya pembentukan mineral dalam tanah terbagi menjadi 2 yaitu: 1, kelompok mineral bukan silikat, dan 2, kelompok mineral silikat.
A. PERAN SILIKON SEBAGAI UNSUR BERMANFAAT PADA TANAMAN TEBU

Unsur bermanfaat merupakan unsur yang berguna bagi pertumbuhan tanaman tetapi tidak memenuhi kaidah unsur hara esensial karena jika unsur ini tidak ada, pertumbuhan tanaman tidak
akan terganggu. Unsur-unsur yang termasuk menguntungkan bagi tanaman adalah Natrium (Na), Cobalt (Co), Chlor (Cl), dan Silikon (Si). Silikon (Si) merupakan unsur kedua terbanyak setelah oksigen (O) dalam kerak bumi dan Si juga berada dalam jumlah yang banyak pada setiap tanah.
Beberapa kajian menjelaskan bahwa Si memiliki beberapa peran penting terhadap tanaman tertentu seperti padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays), dan tebu (Saccharum officinarum). Tebu merupakan salah satu monokotil akumulator Si yaitu tanaman yang serapan Si-nya melebihi serapannya terhadap air. Selama pertumbuhan (1 tahun), tebu menyerap Si sekitar 500-700 kg per ha lebih tinggi dibanding unsur-unsur lainnya.
Si ( silikon )dapat memberikan efek positif bagi tanaman tebu melalui dua hal yaitu pengaruh tak langsung pada tanah dengan meningkatkan ketersediaan P dan pengaruh langsung pada tanaman, seperti meningkatkan efisiensi fotosintesa, menginduksi ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik seperti hama dan penyakit, keracunan Fe, Al, dan Mn, mengurangi kerobohan dan memperbaiki erectness (ketegakan) daun dan batang, serta memperbaiki efisiensi penggunaan air. Untuk kedepannya, diharapkan pengetahuan tentang peranan unsur-unsur bermanfaat lainnya, seperti Natrium (Na), Cobalt (Co), Selenium (Se), dan Vanadium (Va), perlu dikembangkan dan disebarluaskan agar dapat meningkatkan produksi tanaman pertanian.
Dalam pertumbuhannya tanaman membutuhkan unsur hara yang cukup banyak, baik hara makro maupun hara mikro, yang berasal dari alam atau melalui penambahan pupuk ke dalam tanah. Selain pupuk makro atau mikro dan pupuk organik, dapat juga diterapkan pemberian pupuk Si. Beberapa kajian menjelaskan bahwa Si memiliki beberapa peranan penting pada tebu.
Pemberian Si dalam tanah dapat meningkatkan ketersediaan P dan mengurangi aktifitas logam- logam beracun seperti Al, Fe dan Mn. Selain itu Si juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Semua peranan ini diharapkan secara langsung dapat meningkatkan produksi tanaman tebu sehingga kebutuhan gula nasional terpenuhi.
B. SILIKON (Si) SEBAGAI UNSUR BERMANFAAT

Dalam terminologi kesuburan tanah, terdapat 13 unsur hara yang diperlukan tanaman yaitu hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan hara mikro (Fe, Mn, Zn, B, Cu, Mo), hara-hara tersebut dapat meningkatkan dan memelihara hasil tanaman. Hara makro dibutuhkan tanaman dalam jumlahyang banyak, sedangkan hara mikro dibutuhkan dalam jumlah yang lebih sedikit. Unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan metabolisme disebut unsur hara esensial. Unsur hara dapat mempunyai fungsi sebagai konstituen dari suatu struktur organik tanaman, aktifator reaksi enzim atau pembawa muatan (charge carrier) dan osmoregulator. Arnoun dan Stout (1939) dalam Roesmarkam dan Yuwono (2002) mengemukakan konsep unsure hara esensial, yaitu :
1. Tanaman tidak mampu menyelesaikan daur hidupnya tanpa kehadiran unsure tersebut
2. Fungsi dari unsur tersebut tidak mampu digantikan oleh unsur lainnya
3. Unsur tersebut harus secara langsung terlibat di dalam metabolisme tanaman. Sebagai contoh, sebagai komponen dari konstituen tanaman yang penting seperti enzim atau dibutuhkan untuk tahapan metabolik tertentu seperti reaksi enzim. Kehadiran dan konsentrasi unsur di dalam tanaman bukan merupakan asas esensialitas suatu unsur. Tanaman tidak dapat secara selektif menyerap unsur hara yang esensial bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Tanaman juga menyerap unsur yang tidak diperlukan untuk pertumbuhannya dan bahkan bisa jadi unsur yang meracun. Selain hara esensial, terdapat juga hara non-esensial yang dalam kondisi agroklimat tertentu bisa memperkaya pertumbuhan tanaman dengan mendorong proses fisiologi. Hara tersebut disebut dengan hara fungsional atau hara bermanfaat (pembangun) (Savant et.al., 1999).
C. PERAN SILIKON (Si) PADA TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum)
Tanaman menyerap Si dalam jumlah banyak, melebihi unsur-unsur lainnya. Tanaman monokotil seperti famili rerumputan (graminae) menyerap Si lebih banyak dibanding tanaman kacang-kacangandan dikotil. Berdasarkan kemampuan menyerap Si tanaman dibagi menjadi tiga golongan yaitu (Roesmarkam dan Yuwono, 2002):
a. Gramineae basah seperti padi sawah, mendong menyerap SiO2 sekitar 10-15%,
b. Gramineae kering seperti tebu dan rumput- rumputan sekitar 1-3% dan,
c. Tanaman dikotil dan leguminose sekitar hanya 0,5%.
Ada tiga model berbeda dalam penyerapan Si oleh tanaman yang menyebabkan perbedaan dalam akumulasi Si yaitu (Mitani dan Ma, 2005):
a. Penyerapan aktif Tanaman dengan model penyerapan aktif menyerap Si lebih cepat dari pada menyerap air, sehingga menghasilkan penurunan kandungan Si pada larutan.
b. Penyerapan pasif Tanaman dengan model penyerapan pasif menyerap Si dengan tingkatan yang sama dengan menyerap air, tetapi tidak ada perubahan konsentrasi yang signifikan dalam larutan yang berhasil diamati.
c. Rejective uptake Model rejective uptake cenderung untuk mengeluarkan Si yang dibuktikan dengan terjadinya peningkatan konsentrasi Si dalam larutan.
Tebu merupakan salah satu monokotil akumulator Si yaitu tanaman yang serapan Si-nya melebihi serapannya terhadap air. Selama pertumbuhan (1 tahun), tebu menyerap Si sekitar 500 700 kg per ha lebih tinggi dibanding unsur- unsur lainnya. Sebagai pembanding, dalam kurun waktu yang sama tebu menyerap antara 100-300 kg K, 40-80 kg P, dan 50-500 kg N per ha.
Tebu menyerap Si dalam bentuk H4SiO4, yaitu suatu bentuk Si yang tidak bermuatan sehingga relatif tidak mobil dalam tanaman (Fox et. al., 1967). Karena itu, konsentrasi Si dalam tanaman tebu sangat tergantung kepada konsentrasi Si yang larut dalam air tanah. Pergerakan Si dari akar ke batang dan bagian tanaman lainnya mengikuti aliran air. Air diserap akar, masuk ke batang kemudian menguap lewat batang/daun. Si terakumulasi dalam sel epidermis tebu, kemudian berintegrasi kedalamnya sehingga akan memberikan kekuatan kepada batang dan daun
tebu. Distribusi Si dalam batang dan daun tergantung pada laju evapotranspirasi tanaman (Savant et. al., 1999). Si dapat memberikan efek positif bagi tanaman tebu, dengan mekanisme yang belum sepenuhnya dipahami. Si mempengaruhi pertumbuhan tanaman tebu melalui dua hal, yaitu :
1. Pengaruh tak langsung pada tanah.
2. Pengaruh langsung pada tanaman. Samuel (1969) menyatakan bahwa hara Si memiliki banyak peranan pada tanaman tebu, terutama pada tanah-tanah tropis seperti Oxisol, Ultisol, Entisol, dan Histosol (tanah organik). Beberapa kajian menjelaskan bahwa Si dapat meningkatkan hasil melalui peningkatan efisiensi fotosintesis dan menginduksi ketahanan terhadap hama dan penyakit (Matichenkov and Calvert, 2002)









I. HASIL DAN PEMBAHASAN
Beberapa tanaman Graminae membutuhkan Silikon (Si) untuk mencapai kondisi kesehatan maksimum dan ketahanan terhadap hama dan penyakit (Zeyen, 2002). Pemberian Si dapat meningkatkan ketahanan tebu pada beberapa serangan penyakit seperti karat pada daun tebu (sugarcane rust), bintik-bintik hitam/coklat (leaf freckle), dan noda cincin (sugarcane ringspot) (Matichenkov and Calvert, 2002). Penyakit karat disebabkan oleh jamur Puccinia kuehnii, bintik hitam oleh Dimeriella sacchari, sedangkan penyakit noda cincin disebabkan oleh jamur Helminthosporium sacchari (Handoyo, 1982).
Tanaman tebu dapat diserang bermacam- macam hama, baik dari golongan serangga maupun non serangga. Hama-hama dari golongan serangga tidak kurang dari 131 jenis, tetapi yang kerap merugikan adalah penggerek pucuk (top borer) yang disebabkan oleh Scirpophaga novella F. dan penggerek batang (stalk borer) yang disebabkan oleh Chillo sacchariphagus (Williams et. al., 1989). Couhault (2008) melaporkan serangan penggerek pucuk pada tanaman tebu berumur 2 bulan dapat menurunkan hasil gula hingga 97 %.
Serangan hama penggerek batang dan pucuk dapat berkurang dengan pemberian Si. Larva penggerek sebelum memulai serangan ke batang, terlebih dulu memakan jaringan epidermis penutup daun atau batang. Adanya kristal Si dalam jaringan tersebut menghindari terjadinya serangan, karena pada saat itu serangga penyebab penggerek masih memiliki rahang yang rapuh. Rahang serangga akan rusak bila menggigit kristal Si. Mekanisme ini terjadi juga pada hama penggerek pucuk (Anonim, 2006). Sebaliknya, jaringan epidermis akan menjadi lunak apabila kebanyakan pupuk N sehingga mendorong kerentanan tebu terhadap serangan penggerek. Karena itu, kombinasi N dan Si tampaknya cukup baik dalam mendorong pertumbuhan tebu dan sekaligus meningkatkan ketahanan tebu terhadap penggerek (Elawad et. al., 1982).


Reaksi: 

bISA KAH q MENJADi PeMENANG BLACK JARUM????

bANYAK PEserta lomba dalam ajang ini....
ribuan blog kuT untuk bisa menang......
Kita salaing bersaing satu sama lain.....
untuk bisa juara ...
Di Volume K 2,,,apakah pintu kemenangan terbuka bagi Q???
I Hope So...

Reaksi: 

Cahaya matahari

Agroklimatologi
Tugas : Paper “ Cahaya matahari merupakan sumber energy pada peristiwa yang terjadi dalam atmosfer yang dianggap penting bagi sumber kehidupan “
Nama : Fitria Agustina S
B. Peminatan : Teknologi benih
Nim : K 4207135
Dosen : Imas Aisyah, SP, M.Si
Editor : Anton Sugiri, MP
“ Cahaya Matahari Merupakan sumber Energi Pada Peristiwa Yang Terjadi Dalam Atmosfer Yang Dianggap Penting Bagi Sumber Kehidupan “
Pengertian matahari
Matahari merupakan salah satu dari sekitar 100.000.000 bintang dalam kelompok bintang kita, atau rasi bintang Bimasakti. Sebenarnya matahari adalah sebuah bintang yang biasa. Artinya ternyata banyak bintang yang jauh lebih besar, lebih berat, dan lebih panas dari pada matahari. Matahari tampak labih besar dan lebih panas dikarenakan kedudukannya sebagai bintang terdekat dengan bumi. Jarak bumi dengan matahari kira-kira 149.600.000 km (Darmodjo & Kaligis, 2004).


Secara alamiah panas matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan diserap oleh permukaan bumi, sementara sebagian lagi akan dipantulkan kembali ke luar angkasa. Adanya lapisan disebut gas rumah kaca yang berada di atmosfer menyebabkan terhambatnya panas matahari yang hendak dipantulkan ke luar angkasa menembus atmosfer. Peristiwa terperangkapnya panas matahari di permukaan bumi ini dikenal dengan istilah efek rumah kaca.
Hal ini berakibat pada meningkatnya jumlah gas rumah kaca yang berada di atmosfer yang kemudian menyebabkan meningkatnya panas matahari yang terperangkap di atmosfer.
Meskipun atmosfer bumi yang mendukung kehidupan hanyalah setinggi 10 km dari permukaan, lapisan atmosfer yang lebih di atas lagi mencapai ratusan kilometer, menipis seiring ketinggian. Pada fase solar maksimum, radiasi dengan panjang gelombang ultraviolet ekstrim memanaskan lapisan atas atmosfer ini, (disebut sebagai termosfer, dan berada pada ketinggian lebih dari 100 km). Banyak satelit yang terletak pada ketinggian ini. Meskipun termosfer sangatlah tidak rapat dibandingkan lapisan atmosfer bawah, tetapi kerapatannya tetap saja memberikan pengaruh hambatan pada lintasan orbit satelit yang berada disana.
Selama periode matahari minimum, temperatur termosfer mencapai 700 derajat celsius, dan meningkat pada periode matahari maksimum. Panas berlebih ini menyebabkan termosfer mengembang. Pengembangan akan menyebabkan kerapatan meningkat, sehingga lintasan satelit di daerah tersebut mengalami gangguan. Dengan mengamati perubahan lintasan satelit, dapat ditentukan kerapatan udara di daerah tersebut, dan dengan dengan demikian dapat dilihat dinamika atmosfer pada saat tersebut.
Sifat – sifat alami cahaya matahari
Cahaya merupakan bentuk energi yang dikenal sebagai energi elektromagnetik, yang juga disebut radiasi. Model cahaya sebagai gelombang menerangkan banyak sifat-sifat cahaya, tetapi dalam hal tertentu cahaya itu berperilaku seperti tersusun atas partikel-partikel diskret, yang disebut foton. Foton bukanlah objek kasat mata, tetapi foton itu bertindak seperti objek yang memiliki jumlah energi yang tetap. Dan foton cahaya ungu (violet) berisi hampir dua kali energi foton cahaya merah.
Aktivitas Matahari
Sebagai induk tata surya, massa matahari merupakan 99,85 % dari massa total tata surya. Dengan komposisinya yang didominasi hidrogen, reaksi nuklir fusi hidrogen menjadi unsur-unsur yang lebih berat di inti matahari adalah sumber energi utamanya. Ternyata matahari bukanlah bintang yang statis. Ada gejolak-gejolak di permukaan matahari yang kadang menguat dan kadang melemah yang dikenal sebagai aktivitas matahari. Kombinasi aktivitas radiasi dan aktivitas magnetiknya diduga berperan besar pada siklus aktivitas matahari. Mekanisme terjadinya siklus aktivitas matahari itu sampai kini terus diteliti. Belum ada teori yang mampu menjelaskan secara lengkap tentang hal tersebut.
Struktur matahari
Matahari tersusun atas lapisan-lapisan. Tiap lapisan terdiri atas gas pijar yang mempunyai kecepatan yang berbeda. Lapisan matahari yang paling dalam disebut inti matahari. Lapisan berikutnya adalah fotosfer dan atmosfer yang terdiri atas dua lapisan, yaitu kromosfer dan korona, yang secara rinci dijelaskan sebagai berikut (White, Oran. R. et.al. TT. 1995) :
a. Inti matahari mempunyai suhu sekitar 15.000.000° Kelvin. Di dalam inti inilah terjadi reaksi termonuklir, yaitu reaksi fusi (penggabungan) dua inti hidrogen menjadi helium. Energi yang sangat besar yang dihasilkan dari reaksi ini berpindah ke permukaan secara radiasi melalui gas-gas yang sangat rapat di dalam matahari.. Permukaan matahari meradiasikan energi ini ke dalam ruang angkasa.
b. Lapisan fotosfer dapat dilihat dengan menggunakan teleskop. Lapisan ini selalau memancarkan cahaya, seperti gas-gas yang selalu bergerak. Gerakan gas-gas ini disebabkan oleh dorongan energi yang datang dari inti matahari.
c. Atmosfer matahari dari dua lapisan, yaitu :
(1) lapisan bawah, atau sebelah dalam, terletek kromosfer, atau “bola warna”. Lapisan ini menjulang sejauh 12.000 km diatas permukaan matahari, dan
(2) lapisan atas, atau sebelah luar, terdapat korona atau “mahkota’ yang membentuk lingkaran cahaya putih yang mengelilingi keseluruhan matahari, dan menyorotkan pita cahaya yang panjangnya berjuta-juta kilometer ke arah luar angkasa.
Hubungan matahari dengan bumi
Sinar Matahari yang mencapai atmosfer sebagian akan direfleksikan dan diabsorbsi oleh atmosfer itu sendiri, oleh awan dan partikel padat yang ada di atmosfer, vegetasi serta permukaan bumi. Sepertiga dari total radiasi matahari yang diterima akan direfleksikan kembali ke angkasa. Pada saat mendung, banyak dari radiasi ini yang ditahan oleh lapisan atmosfer sehingga bumi tetap hangat. Suhu malam di permukaan bumi juga relatif sejuk karena efek pemanasan radiasi di lapisan awan ini.
Total sinar matahari yang mencapai atmosfer adalah 1,95 g.cal per cm2 per menit yang disebut solar constant. Panjang gelombang sinar matahari yang mempengaruhi kehidupan di bumi terbagi menjadi 3 yaitu : ultra violet, sinar tampak, dan infra merah. Sinar matahari dengan panjang gelombang yang lebih pendek (ultra violet) akan diabsorbsi oleh atmosfer sedangkan sinar matahari dengan panjang gelombang 0,4 – 0,7 µm disebut sebagai cahaya tampak. Setengah dari total energi matahari yang mencapai permukaan bumi merupakan sinar tampak.
Pancaran energi matahari yang keluar, akan mempengaruhi dinamika atmosfer dan kehidupan di Bumi. Angin matahari yang berhembus dari matahari dapat menyebabkan fluktuasi kelimpahan dan komposisi kimia planet-planet dalam jangkauan matahari. Energi yang datang ke Bumi sebagian besar merupakan pancaran radiasi matahari. Energi ini kemudian ditransformasikan menjadi bermacam-macam bentuk energi yang sangat bermanfaat bagi bumi diantaranya :
1. Matahari mempunyai fungsi yang sangat penting bagi bumi. Energi pancaran matahari telah membuat bumi tetap hangat bagi kehidupan, membuat udara dan air di bumi bersirkulasi, tumbuhan bisa berfotosintesis.
2. Merupakan sumber energi (sinar panas). Energi yang terkandung dalam batu bara dan minyak bumi sebenarnya juga berasal dari matahari karena batu bara dan minyak bumi pada hakekatnya adalah fosil dari tumbuhan yang telah tertimbun pada waktu yang sangat lama. Sebagai tumbuhan, maka karbohidrat dan energi yang disimpan dalam batang (yang kemudian menjadi fosil) tersebut adalah karena adanya sinar matahari yang berperan dalam fotosintesis sehingga menghasilkan karbohidrat tersebut.
3. Mengontrol stabilitas peredaran bumi yang juga berarti mengontrol terjadinya siang dan malam, tahun serta mengontrol planet lainnya. Tanpa matahari, sulit membayangkan kalau akan ada kehidupan di bumi
Dalam proses fotosintesis, mahluk hidup yang berklorofil menyerap CO2, dan dengan menggunakan cahaya matahari sebagai sumber energi, menghasilkan karbohidrat dan melepas O2, dengan makin berkembangnya organisme yang berklorofil, proses fotosintesis pun makin banyak terjadi dan seiring dengan itu kadar CO2 dalam atmosfer berkurang dan kadar O2 bertambah.
Intensitas energi matahari yang mencapai bumi dan atmosfernya bervariasi pada garis lintang. Daerah tropis menerima masukan yang paling tinggi. Sebagian besar radiasi matahari diserap, terpencar, atau dipantulkan oleh atmosfer dalam suatu bola asimetris yang ditentukan oleh variasi dalam tutupan awan dan jumlah debu di udara sepanjang wilayah yang berbeda-beda. Jumlah radiasi matahari yang mencapai bumi akhirnya membatasi hasil fotosintesis, meskipun produktivitas fotosintesis juga dibatasi oleh air, suhu, dan ketersediaan nutrien.
Jadi cahaya matahari merupakan sumber energi pada peristiwa yang terjadi dalam atmosfer yang dianggap penting bagi sumber kehidupan.



Reaksi: 

Pengaruh Iklim Terhadap Sektor Pertanian

Agroklimatologi
Tugas 7 : Paper “ Pengaruh iklim terhadap sektor pertanian “
Nama : Fitria Agustina S
B. Peminatan : Teknologi benih
Nim : K 4207135
Dosen : Imas Aisyah, SP, M.Si
Editor : Anton Sugiri, MP
“ Pengaruh Iklim Terhadap Sektor Pertanian “
Pengaruh Iklim Terhadap Pembungaan (Fenology) Pakan Lebah Madu Pada Tanaman Karet (Hevea braziliensis) di Sumatera Utara
Kehutanan merupakan salah satu sektor terpenting yang perlu mendapatkan perhatian khusus, mengingat lebih dari 67% luas daratan Indonesia berupa hutan.

Potensi hutan Indonesia yang sangat luas tersebut memberikan manfaat bukan hanya hasil hutan kayu tetapi juga hasil hutan non kayu (HHNK). Salah satu sektor produk hasil hutan non kayu (HHNK) yang menjadi primadona di pasaran nasional maupun internasional adalah perlebahan.
Degradasi hutan karena penebangan maupun kebakaran hutan berdampak negatif terhadap populasi lebah hutan (Apis dorsata),akibatnya produk yang dihasilkan oleh lebah berupa madu, lilin, dan royal jelli juga menurun. Peternakan lebah merupakan alternatif untuk memanfaatkan potensi hutan tersebut. Peternakan lebah juga akan mendukung upaya penanaman sehingga hutan akan terbangun kembali.
Apis mellifera merupakan salah satu jenis lebah ternak yang dikembangkan di hutan yang memiliki pakan homogen. Dibukanya hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan yang tanamannya homogen akan mendukung kegiatan ini. Kegiatan perlebahan juga akan meningkatkan produktivitas tanaman yaitu melalui peningkatan jumlah buah buah dari hasil penyerbukan lebah.
Di luar negeri seperti Australia,Amerika dan negara-negara Eropa, beternak lebah bertujuan membantu petani dalam penyerbukan tanaman pertanian. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang jasa budidaya lebah tersebut. Perusahaan tersebut menerima order dari petani, terutama petani tanaman buah-buahan yang bertujuan memproduksi buah dan benih tanaman. Para petani yang mempunyai tanaman siap berbunga dapat memesan lebah untuk membantu penyerbukan tanamannya. Sebagai imbalannya, petani tersebut harus membayar jasa dengan tarif yang sudah ditentukan kepada peternak lebah. Perusahaan lebah serbuk, selain memperoleh pendapatan dari jasa penyerbukan, juga memperoleh madu sebagai pendapatan tambahan (Ashari,2004).
Tujuan beternak lebah di Indonesia pada saat ini terutama memperoleh madu. Oleh karena itu, peternak lebah selalu menggembalakan lebahnya pada areal tanaman yang sedang berbunga, kemudian, apabila masa pembungaan telah usai, ladang penggembalaan harus dipindahkan ke tempat yang lainnya. Penggembalaan lebah bertujuan agar lebah dapat memperoleh pakan dalam jumlah yang cukup berupa tepung sari dan nektar (Ashari,2004).
Jenis-jenis tanaman penghasil pakan lebah yang meliputi tanaman buah-buahan,sayur-sayuran, tanaman hias, tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Salah satu jenis tanaman perkebunan yang potensial saat ini terutama di daerah Sumatera Utara adalah karet. Meskipun hampir semua potensi hutan dan perkebunan dapat dimanfaatkan untuk lokasi pemeliharaan lebah madu, namun ada beberapa daerah tertentu yang cukup potensial dan memenuhi persyaratan untuk menghasilkan madu yang baik, lokasi tersebut terutama di wilayah perkebunan (Werdiningsih,2003).
Kita tahu bahwa setiap tanaman mempunyai musim berbunga yang berlainan, maka para peternak lebah harus memahami musim-musim yang tepat bila bermaksud untuk memelihara lebah madu.adakalanya tanaman pakan lebah tidak sedang berbunga atau tidak tersedia pakan di lapangan dalam jumlah yang cukup, sehingga koloni lebah kekurangan pakan, kondisi inilah yang disebut dengan masa paceklik.
Tanaman pakan yang ideal adalah tanaman yang dapat menghasilkan pollen dan nektar dalam jumlah yang cukup banyak dan tersedia secara terus menerus sepanjang tahun. Akan tetapi keadaan yang ideal inilah yang sulit dipenuhi, terutama dikarenakan tanaman-tanaman yang berpotensi besar untuk menghasilkan pollen dan nektar ketersediannya sangat dipengaruhi oleh musim.
Jadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam usaha pengembangan lebah madu adalah mengetahui musim-musim berbunga dari jenis tanaman yang menjadi pakan lebah madu, untuk itu perlu inventarisasi data pembungaan tanaman pakan lebah madu tersebut. Karena potensi perkebunan karet yang cukup luas di Sumatera Utara.



Reaksi: 

"Tak Selamanya Awan Mendung Menjadi Hujan “

"Tak Selamanya Awan Mendung Menjadi Hujan “
Awan
Uap air yang dihasilkan melalui proses evapotranspirasi (penguapan langsung air dari permukaan tanah dan penguapan air melalui tumbuhan) akan bergerak ke lapisan atas troposfer bumi.

Suhu udara pada lapisan troposfer bumi akan semakin rendah dengan bertambahnya ketinggian. Penurunan suhu udara akan mempercepat tercapainya kejenuhan uap air pada udara tersebut, berarti akan merangsang terjadinya kondensasi. Kondensasi ini dapat terjadi lebih cepat, jika tersedia partikel-partikel halus yang bersifat higroskopis sehingga dapat berfungsi sebagai inti kondensasi. Inti kondensasi inilah yang akan mengikat molekul-molekul air disekitarnya untuk membentuk butiran air. Jika suhu udara berada di bawah titik beku air, maka kristal es juga dapat terbentuk. Kumpulan butiran air atau kristal es yang tersuspensi di udara pada ketinggian lebih dari 1 km, yang banyak jumlahnya dan terlihat melayang-layang tinggi di udara inilah yang disebut dengan awan.
Jadi yang dimaksud dengan awan yaitu hasil kondensasi uap air setelah uap air mengalami penurunan suhu. Penurunan suhu terjadi karena beberapa hal anatara lain : pendinginan permukaan bumi dan naiknya udara sampai ketinggian tertentu yang disebabkan oleh adanya pemanasan, adanya pegunungan atau proses-proses konvergensi udara.
Penyebaran Awan
Biasanya identik dengan penyebaran hujan dan penyebaran awan biasanya dinyatakan dalam nilai keawanan yaitu gambaran dari besarnya bagian langit yang tertutup awan dengan satuan perdelapan atau persepuluh. Dekat equator, keawanan cukup tinggi yang merupakan daerah konvergen Sekitar lintang 20-300 , keawanan sangat rendah yang merupakan daerah devergen Sekitar lintang 600, keawanan rata-rata terbesar. Variasi harian keawanan di atas daratan, keawanan maksimum terjadi pada siang sampai sore hari sedang di atas lautan terjadi pada saat malam hari
Awan itu dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan ketinggiannya, yaitu:
 Awan tinggi, yaitu awan yang terdapat pada ketinggian 7 km dari permukaan laut, terdiri dari cirrus, cirrosrtatus dan cirrocumulus.
 Awan pertengahan, ada pada ketinggian 2 km ke atas dari permukaan laut tetapi kurang dari 7 km, terdiri dari alto stratus dan alto cumulus.
 Awan rendah, ada pada ketinggian kurang dari 2 km dari permukaan laut, terdiri dari strato cumulus, stratus, dan nimbo stratus.
 Awan yang berkembang vertikal, pada ketinggian 1-2 km dari permukaan laut, terdiri dari cumulus dan cumulo nimbus.
Keterangan:
 Awan stratus : awan ini berbentuk pipih dan berwarna abu-abu.
 Awan cumulus : awan ini mempunyai bentuk dasar yang rata dan bentuk bagian atasnya mirip kubis bunga (cauliflower). Awan ini diperlukan untuk terjadinya hujan.
 Awan cumulonimbus dapat menyebabkan hujan lebat.
 Awan cirrus : awan ini berwarna putih, tipis, berserat dan terdiri dari kristal es.
Hujan
Hujan adalah air yang jatuh ke permukaan bumi sebagai akibat terjadinya kondensasi dari partikel-pertikel air di langin/awan. Awan yang terbentuk sebagai hasil dari kondensasi uap air akan terbawa oleh angin, sehingga berpeluang untuk tersebar ke seluruh permukaan bumi.
Pembentukan Hujan
Supaya dapat menghasilkan hujan butir-butir awan harus tumbuh menjadi cukup besar sehingga gaya berat cukup untuk melawan arus udara naik. Ada beberapa teori yang membahas pembentukan hujan diantaranya teori Bergeron dan teori Tumbukan & Penyatuan (Collision).
Sifat Hujan
Sifat hujan ditetapkan berdasarkan pada perbandingan antara jumlah curah hujan dalam sebulan dengan nilai rata-rata atau normalnya pada bulan yang bersangkutan di suatu tempat.
Tipe-tipe Hujan
Berdasar gerakan udara naik untuk membentuk awan tipe hujan dapat digolongkan
menjadi :
 Hujan Konveksi
Dihasilkan dari naiknya udara hangat dan lembab dengan proses penurunan suhu secara adiabatik. Hujan biasanya lebat tapi pada daerah yang terbatas dan sering disertai guntur. Hujan yang demikian kurang efektif bagi pertanian tetapi sangat efektif untuk timbulnya erosi.
 Hujan Orografik
Dihasilkan oleh naiknya udara lembab secara paksa oleh dataran tinggi atau pegunungan. Curah hujan di dataran tinggi biasanya lebih tinggi daripada dataran rendah sekitarnya terutama pada arah hadap angin (windward)
 Hujan Gangguan
Tipe hujan yang termasuk dalam kelompok hujan gangguan adalah hujan siklonik dan hujan frontal.
Awan mendung menjadi hujan ?
Karakteristik hujan sangat bervariasi dari tempat ke tempat, hari ke hari, dan bulan ke bulan, dan juga dari tahun ke tahun.
Banyak yang mengatakan, jika awan mendung itu berarti hujan, namun tak semua awan yang mendung akan menjadi hujan kenapa.? Ukuran butiran air yang berasal dari awan akan jatuh ke bumi dengan beragam ukuran . Butiran air yang berdiameter lebih dari 0,5 mm akan sampai ke permukaan bumi dan dikenal sebagai air hujan. Ukuran butiran antara 0,2–0,5 mm akan juga sampai ke permukaan bumi, dikenal sebagai gerimis (drizzel), sedangkan ukuran butiran yang kurang dari 0,2 mm tidak akan sampai ke permukaan bumi karena akan menguap dalam perjalanannya menuju permukaan bumi.
Supaya dapat menghasilkan hujan butir-butir awan harus tumbuh menjadi cukup besar sehingga gaya berat cukup untuk melawan arus udara naik.
Tak selamanya awan yang mendung akan menjadi hujan, karena jika dilihat awan hanya sekedar mendung tetapi ukuran dari awan besar atau tidaknya,telah dijelaskan diatas agar mendapatkan butir – butiran, awan harus tumbuh besar, dalam arti awan harus besar dan memiliki ukuran yang cukup besar,agar berat yang dimiliki awan dapat melawan arus naik udara. Pola dari curah hujan di suatu wiliyah juga menentukan apakah awan yang mendung akan menjadi hujan atau tidak ?
Pola curah hujan disuatu daerah ( Indonesia ) dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satu diantaranya adalah :
 Keberadaan dua benua yang mengapit kepulauan Indonesia, yakni Benua Asia dan Benua Australia akan mempengaruhi pola pergerakan angin di wilayah Indonesia. Arah angin sangat penting peranannya dalam mempengaruhi pola curah hujan. Jika angin berhembus dari arah Samudera Pasifik atau Samudera Indonesia, maka angin tersebut akan membawa udara lembab ke wilayah Indonesia yang akan mengakibatkan curah hujan di wilayah Indonesia menjadi tinggi, sebaliknya jika angin berhembus dari arah daratan Benua Asia dan Benua Australia, angin tersebut akan mengandung sedikit uap air (kering) sehingga proses kondensasi secara alamiah tidak dapat berlangsung, Akibatnya tentu saja tidak akan terjadi hujan.
 Keberadaan deretan pegunungan. Pegunungan merupakan penghalang fisik bagi pergerakan angin. Jika angin lembab pegerakannya terhalang oleh keberadaan pegunungan, maka curah hujan untuk sisi arah datang angin lembab akan tinggi dan pada sisi pegunungan di sebelahnya curah hujan akan sangat rendah. Daerah dengan curah hujan rendah ini disebut daerah bayangan hujan. Sebagai contoh Pegunungan Bukit Barisan di Pulau Sumatera berada pada posisi tegak lurus terhadap arah angin yang membawa udara lembab dari Samudera Indonesia. Sebagai akibatnya, curah hujan pada wilayah pantai barat pulau Sumatera (di sebelah barat Pegunungan Bukit Barisan) sangat tinggi, sedangkan untuk wilayah di sebelah timur Bukit Barisan curah hujannya jauh lebih rendah.
Jadi banyak yang menjadi faktor, apakah awan yang mendung akan menjadi hujan atau tidak. Pada pembahasan diatas telah menjelaskan sedikit dari hujan dan awan yang saling berhubungan. Dengan demikian kesimpulan yang dapat diambil adalah tak selamanya awan yang mendung menjadi hujan.


Reaksi: 

Anemometer

Anemometer
Alat ini sangat sederhana sekali, pembacaan arah angin bertiup dapat dilihat skala mata angin yang dipasang pada bagian bawah alat.

Kemana arah panah menunjuk berate pada arah tersebutlah angin bertiup. Untuk pembacaan kecepatan angin sesaat dilakukan dengan melihat bagian papan besi bergerak seberapa jauh menunjukan ke bujur pengukur. Alat pembacaan kecepatan angin terletak dibagian atas pengukur arah angin sehingga ketika pengukur arah angin berputar alat ini juga ikut berputar. Skala pembacaan dalam m/detik. Tinggi alat ini sekitar 15 meter dengan tiang penyangga besi. Kekurangan alat ini adalah kurang peka terhadap pengukuran angin dengan kecepatan rendah dan ketelitiannya rendah, sedangkan kelebihannya pembacaan mudah dilakukan dan data tidak perlu diolah kembali.


Reaksi: 

ImportanT,,,!!^_^

Glitter Text Generator at TextSpace.net