bISA KAH q MENJADi PeMENANG BLACK JARUM????
bANYAK PEserta lomba dalam ajang ini....
ribuan blog kuT untuk bisa menang......
Kita salaing bersaing satu sama lain.....
untuk bisa juara ...
Di Volume K 2,,,apakah pintu kemenangan terbuka bagi Q???
I Hope So...
Agroklimatologi
Tugas : Paper “ Cahaya matahari merupakan sumber energy pada peristiwa yang terjadi dalam atmosfer yang dianggap penting bagi sumber kehidupan “
Nama : Fitria Agustina S
B. Peminatan : Teknologi benih
Nim : K 4207135
Dosen : Imas Aisyah, SP, M.Si
Editor : Anton Sugiri, MP
“ Cahaya Matahari Merupakan sumber Energi Pada Peristiwa Yang Terjadi Dalam Atmosfer Yang Dianggap Penting Bagi Sumber Kehidupan “
Pengertian matahari
Matahari merupakan salah satu dari sekitar 100.000.000 bintang dalam kelompok bintang kita, atau rasi bintang Bimasakti. Sebenarnya matahari adalah sebuah bintang yang biasa. Artinya ternyata banyak bintang yang jauh lebih besar, lebih berat, dan lebih panas dari pada matahari. Matahari tampak labih besar dan lebih panas dikarenakan kedudukannya sebagai bintang terdekat dengan bumi. Jarak bumi dengan matahari kira-kira 149.600.000 km (Darmodjo & Kaligis, 2004).
Secara alamiah panas matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan diserap oleh permukaan bumi, sementara sebagian lagi akan dipantulkan kembali ke luar angkasa. Adanya lapisan disebut gas rumah kaca yang berada di atmosfer menyebabkan terhambatnya panas matahari yang hendak dipantulkan ke luar angkasa menembus atmosfer. Peristiwa terperangkapnya panas matahari di permukaan bumi ini dikenal dengan istilah efek rumah kaca.
Hal ini berakibat pada meningkatnya jumlah gas rumah kaca yang berada di atmosfer yang kemudian menyebabkan meningkatnya panas matahari yang terperangkap di atmosfer.
Meskipun atmosfer bumi yang mendukung kehidupan hanyalah setinggi 10 km dari permukaan, lapisan atmosfer yang lebih di atas lagi mencapai ratusan kilometer, menipis seiring ketinggian. Pada fase solar maksimum, radiasi dengan panjang gelombang ultraviolet ekstrim memanaskan lapisan atas atmosfer ini, (disebut sebagai termosfer, dan berada pada ketinggian lebih dari 100 km). Banyak satelit yang terletak pada ketinggian ini. Meskipun termosfer sangatlah tidak rapat dibandingkan lapisan atmosfer bawah, tetapi kerapatannya tetap saja memberikan pengaruh hambatan pada lintasan orbit satelit yang berada disana.
Selama periode matahari minimum, temperatur termosfer mencapai 700 derajat celsius, dan meningkat pada periode matahari maksimum. Panas berlebih ini menyebabkan termosfer mengembang. Pengembangan akan menyebabkan kerapatan meningkat, sehingga lintasan satelit di daerah tersebut mengalami gangguan. Dengan mengamati perubahan lintasan satelit, dapat ditentukan kerapatan udara di daerah tersebut, dan dengan dengan demikian dapat dilihat dinamika atmosfer pada saat tersebut.
Sifat – sifat alami cahaya matahari
Cahaya merupakan bentuk energi yang dikenal sebagai energi elektromagnetik, yang juga disebut radiasi. Model cahaya sebagai gelombang menerangkan banyak sifat-sifat cahaya, tetapi dalam hal tertentu cahaya itu berperilaku seperti tersusun atas partikel-partikel diskret, yang disebut foton. Foton bukanlah objek kasat mata, tetapi foton itu bertindak seperti objek yang memiliki jumlah energi yang tetap. Dan foton cahaya ungu (violet) berisi hampir dua kali energi foton cahaya merah.
Aktivitas Matahari
Sebagai induk tata surya, massa matahari merupakan 99,85 % dari massa total tata surya. Dengan komposisinya yang didominasi hidrogen, reaksi nuklir fusi hidrogen menjadi unsur-unsur yang lebih berat di inti matahari adalah sumber energi utamanya. Ternyata matahari bukanlah bintang yang statis. Ada gejolak-gejolak di permukaan matahari yang kadang menguat dan kadang melemah yang dikenal sebagai aktivitas matahari. Kombinasi aktivitas radiasi dan aktivitas magnetiknya diduga berperan besar pada siklus aktivitas matahari. Mekanisme terjadinya siklus aktivitas matahari itu sampai kini terus diteliti. Belum ada teori yang mampu menjelaskan secara lengkap tentang hal tersebut.
Struktur matahari
Matahari tersusun atas lapisan-lapisan. Tiap lapisan terdiri atas gas pijar yang mempunyai kecepatan yang berbeda. Lapisan matahari yang paling dalam disebut inti matahari. Lapisan berikutnya adalah fotosfer dan atmosfer yang terdiri atas dua lapisan, yaitu kromosfer dan korona, yang secara rinci dijelaskan sebagai berikut (White, Oran. R. et.al. TT. 1995) :
a. Inti matahari mempunyai suhu sekitar 15.000.000° Kelvin. Di dalam inti inilah terjadi reaksi termonuklir, yaitu reaksi fusi (penggabungan) dua inti hidrogen menjadi helium. Energi yang sangat besar yang dihasilkan dari reaksi ini berpindah ke permukaan secara radiasi melalui gas-gas yang sangat rapat di dalam matahari.. Permukaan matahari meradiasikan energi ini ke dalam ruang angkasa.
b. Lapisan fotosfer dapat dilihat dengan menggunakan teleskop. Lapisan ini selalau memancarkan cahaya, seperti gas-gas yang selalu bergerak. Gerakan gas-gas ini disebabkan oleh dorongan energi yang datang dari inti matahari.
c. Atmosfer matahari dari dua lapisan, yaitu :
(1) lapisan bawah, atau sebelah dalam, terletek kromosfer, atau “bola warna”. Lapisan ini menjulang sejauh 12.000 km diatas permukaan matahari, dan
(2) lapisan atas, atau sebelah luar, terdapat korona atau “mahkota’ yang membentuk lingkaran cahaya putih yang mengelilingi keseluruhan matahari, dan menyorotkan pita cahaya yang panjangnya berjuta-juta kilometer ke arah luar angkasa.
Hubungan matahari dengan bumi
Sinar Matahari yang mencapai atmosfer sebagian akan direfleksikan dan diabsorbsi oleh atmosfer itu sendiri, oleh awan dan partikel padat yang ada di atmosfer, vegetasi serta permukaan bumi. Sepertiga dari total radiasi matahari yang diterima akan direfleksikan kembali ke angkasa. Pada saat mendung, banyak dari radiasi ini yang ditahan oleh lapisan atmosfer sehingga bumi tetap hangat. Suhu malam di permukaan bumi juga relatif sejuk karena efek pemanasan radiasi di lapisan awan ini.
Total sinar matahari yang mencapai atmosfer adalah 1,95 g.cal per cm2 per menit yang disebut solar constant. Panjang gelombang sinar matahari yang mempengaruhi kehidupan di bumi terbagi menjadi 3 yaitu : ultra violet, sinar tampak, dan infra merah. Sinar matahari dengan panjang gelombang yang lebih pendek (ultra violet) akan diabsorbsi oleh atmosfer sedangkan sinar matahari dengan panjang gelombang 0,4 – 0,7 µm disebut sebagai cahaya tampak. Setengah dari total energi matahari yang mencapai permukaan bumi merupakan sinar tampak.
Pancaran energi matahari yang keluar, akan mempengaruhi dinamika atmosfer dan kehidupan di Bumi. Angin matahari yang berhembus dari matahari dapat menyebabkan fluktuasi kelimpahan dan komposisi kimia planet-planet dalam jangkauan matahari. Energi yang datang ke Bumi sebagian besar merupakan pancaran radiasi matahari. Energi ini kemudian ditransformasikan menjadi bermacam-macam bentuk energi yang sangat bermanfaat bagi bumi diantaranya :
1. Matahari mempunyai fungsi yang sangat penting bagi bumi. Energi pancaran matahari telah membuat bumi tetap hangat bagi kehidupan, membuat udara dan air di bumi bersirkulasi, tumbuhan bisa berfotosintesis.
2. Merupakan sumber energi (sinar panas). Energi yang terkandung dalam batu bara dan minyak bumi sebenarnya juga berasal dari matahari karena batu bara dan minyak bumi pada hakekatnya adalah fosil dari tumbuhan yang telah tertimbun pada waktu yang sangat lama. Sebagai tumbuhan, maka karbohidrat dan energi yang disimpan dalam batang (yang kemudian menjadi fosil) tersebut adalah karena adanya sinar matahari yang berperan dalam fotosintesis sehingga menghasilkan karbohidrat tersebut.
3. Mengontrol stabilitas peredaran bumi yang juga berarti mengontrol terjadinya siang dan malam, tahun serta mengontrol planet lainnya. Tanpa matahari, sulit membayangkan kalau akan ada kehidupan di bumi
Dalam proses fotosintesis, mahluk hidup yang berklorofil menyerap CO2, dan dengan menggunakan cahaya matahari sebagai sumber energi, menghasilkan karbohidrat dan melepas O2, dengan makin berkembangnya organisme yang berklorofil, proses fotosintesis pun makin banyak terjadi dan seiring dengan itu kadar CO2 dalam atmosfer berkurang dan kadar O2 bertambah.
Intensitas energi matahari yang mencapai bumi dan atmosfernya bervariasi pada garis lintang. Daerah tropis menerima masukan yang paling tinggi. Sebagian besar radiasi matahari diserap, terpencar, atau dipantulkan oleh atmosfer dalam suatu bola asimetris yang ditentukan oleh variasi dalam tutupan awan dan jumlah debu di udara sepanjang wilayah yang berbeda-beda. Jumlah radiasi matahari yang mencapai bumi akhirnya membatasi hasil fotosintesis, meskipun produktivitas fotosintesis juga dibatasi oleh air, suhu, dan ketersediaan nutrien.
Jadi cahaya matahari merupakan sumber energi pada peristiwa yang terjadi dalam atmosfer yang dianggap penting bagi sumber kehidupan.
Agroklimatologi
Tugas 7 : Paper “ Pengaruh iklim terhadap sektor pertanian “
Nama : Fitria Agustina S
B. Peminatan : Teknologi benih
Nim : K 4207135
Dosen : Imas Aisyah, SP, M.Si
Editor : Anton Sugiri, MP
“ Pengaruh Iklim Terhadap Sektor Pertanian “
Pengaruh Iklim Terhadap Pembungaan (Fenology) Pakan Lebah Madu Pada Tanaman Karet (Hevea braziliensis) di Sumatera Utara
Kehutanan merupakan salah satu sektor terpenting yang perlu mendapatkan perhatian khusus, mengingat lebih dari 67% luas daratan Indonesia berupa hutan.
Potensi hutan Indonesia yang sangat luas tersebut memberikan manfaat bukan hanya hasil hutan kayu tetapi juga hasil hutan non kayu (HHNK). Salah satu sektor produk hasil hutan non kayu (HHNK) yang menjadi primadona di pasaran nasional maupun internasional adalah perlebahan.
Degradasi hutan karena penebangan maupun kebakaran hutan berdampak negatif terhadap populasi lebah hutan (Apis dorsata),akibatnya produk yang dihasilkan oleh lebah berupa madu, lilin, dan royal jelli juga menurun. Peternakan lebah merupakan alternatif untuk memanfaatkan potensi hutan tersebut. Peternakan lebah juga akan mendukung upaya penanaman sehingga hutan akan terbangun kembali.
Apis mellifera merupakan salah satu jenis lebah ternak yang dikembangkan di hutan yang memiliki pakan homogen. Dibukanya hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan yang tanamannya homogen akan mendukung kegiatan ini. Kegiatan perlebahan juga akan meningkatkan produktivitas tanaman yaitu melalui peningkatan jumlah buah buah dari hasil penyerbukan lebah.
Di luar negeri seperti Australia,Amerika dan negara-negara Eropa, beternak lebah bertujuan membantu petani dalam penyerbukan tanaman pertanian. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang jasa budidaya lebah tersebut. Perusahaan tersebut menerima order dari petani, terutama petani tanaman buah-buahan yang bertujuan memproduksi buah dan benih tanaman. Para petani yang mempunyai tanaman siap berbunga dapat memesan lebah untuk membantu penyerbukan tanamannya. Sebagai imbalannya, petani tersebut harus membayar jasa dengan tarif yang sudah ditentukan kepada peternak lebah. Perusahaan lebah serbuk, selain memperoleh pendapatan dari jasa penyerbukan, juga memperoleh madu sebagai pendapatan tambahan (Ashari,2004).
Tujuan beternak lebah di Indonesia pada saat ini terutama memperoleh madu. Oleh karena itu, peternak lebah selalu menggembalakan lebahnya pada areal tanaman yang sedang berbunga, kemudian, apabila masa pembungaan telah usai, ladang penggembalaan harus dipindahkan ke tempat yang lainnya. Penggembalaan lebah bertujuan agar lebah dapat memperoleh pakan dalam jumlah yang cukup berupa tepung sari dan nektar (Ashari,2004).
Jenis-jenis tanaman penghasil pakan lebah yang meliputi tanaman buah-buahan,sayur-sayuran, tanaman hias, tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Salah satu jenis tanaman perkebunan yang potensial saat ini terutama di daerah Sumatera Utara adalah karet. Meskipun hampir semua potensi hutan dan perkebunan dapat dimanfaatkan untuk lokasi pemeliharaan lebah madu, namun ada beberapa daerah tertentu yang cukup potensial dan memenuhi persyaratan untuk menghasilkan madu yang baik, lokasi tersebut terutama di wilayah perkebunan (Werdiningsih,2003).
Kita tahu bahwa setiap tanaman mempunyai musim berbunga yang berlainan, maka para peternak lebah harus memahami musim-musim yang tepat bila bermaksud untuk memelihara lebah madu.adakalanya tanaman pakan lebah tidak sedang berbunga atau tidak tersedia pakan di lapangan dalam jumlah yang cukup, sehingga koloni lebah kekurangan pakan, kondisi inilah yang disebut dengan masa paceklik.
Tanaman pakan yang ideal adalah tanaman yang dapat menghasilkan pollen dan nektar dalam jumlah yang cukup banyak dan tersedia secara terus menerus sepanjang tahun. Akan tetapi keadaan yang ideal inilah yang sulit dipenuhi, terutama dikarenakan tanaman-tanaman yang berpotensi besar untuk menghasilkan pollen dan nektar ketersediannya sangat dipengaruhi oleh musim.
Jadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam usaha pengembangan lebah madu adalah mengetahui musim-musim berbunga dari jenis tanaman yang menjadi pakan lebah madu, untuk itu perlu inventarisasi data pembungaan tanaman pakan lebah madu tersebut. Karena potensi perkebunan karet yang cukup luas di Sumatera Utara.
"Tak Selamanya Awan Mendung Menjadi Hujan “
Awan
Uap air yang dihasilkan melalui proses evapotranspirasi (penguapan langsung air dari permukaan tanah dan penguapan air melalui tumbuhan) akan bergerak ke lapisan atas troposfer bumi.
Suhu udara pada lapisan troposfer bumi akan semakin rendah dengan bertambahnya ketinggian. Penurunan suhu udara akan mempercepat tercapainya kejenuhan uap air pada udara tersebut, berarti akan merangsang terjadinya kondensasi. Kondensasi ini dapat terjadi lebih cepat, jika tersedia partikel-partikel halus yang bersifat higroskopis sehingga dapat berfungsi sebagai inti kondensasi. Inti kondensasi inilah yang akan mengikat molekul-molekul air disekitarnya untuk membentuk butiran air. Jika suhu udara berada di bawah titik beku air, maka kristal es juga dapat terbentuk. Kumpulan butiran air atau kristal es yang tersuspensi di udara pada ketinggian lebih dari 1 km, yang banyak jumlahnya dan terlihat melayang-layang tinggi di udara inilah yang disebut dengan awan.
Jadi yang dimaksud dengan awan yaitu hasil kondensasi uap air setelah uap air mengalami penurunan suhu. Penurunan suhu terjadi karena beberapa hal anatara lain : pendinginan permukaan bumi dan naiknya udara sampai ketinggian tertentu yang disebabkan oleh adanya pemanasan, adanya pegunungan atau proses-proses konvergensi udara.
Penyebaran Awan
Biasanya identik dengan penyebaran hujan dan penyebaran awan biasanya dinyatakan dalam nilai keawanan yaitu gambaran dari besarnya bagian langit yang tertutup awan dengan satuan perdelapan atau persepuluh. Dekat equator, keawanan cukup tinggi yang merupakan daerah konvergen Sekitar lintang 20-300 , keawanan sangat rendah yang merupakan daerah devergen Sekitar lintang 600, keawanan rata-rata terbesar. Variasi harian keawanan di atas daratan, keawanan maksimum terjadi pada siang sampai sore hari sedang di atas lautan terjadi pada saat malam hari
Awan itu dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan ketinggiannya, yaitu:
Awan tinggi, yaitu awan yang terdapat pada ketinggian 7 km dari permukaan laut, terdiri dari cirrus, cirrosrtatus dan cirrocumulus.
Awan pertengahan, ada pada ketinggian 2 km ke atas dari permukaan laut tetapi kurang dari 7 km, terdiri dari alto stratus dan alto cumulus.
Awan rendah, ada pada ketinggian kurang dari 2 km dari permukaan laut, terdiri dari strato cumulus, stratus, dan nimbo stratus.
Awan yang berkembang vertikal, pada ketinggian 1-2 km dari permukaan laut, terdiri dari cumulus dan cumulo nimbus.
Keterangan:
Awan stratus : awan ini berbentuk pipih dan berwarna abu-abu.
Awan cumulus : awan ini mempunyai bentuk dasar yang rata dan bentuk bagian atasnya mirip kubis bunga (cauliflower). Awan ini diperlukan untuk terjadinya hujan.
Awan cumulonimbus dapat menyebabkan hujan lebat.
Awan cirrus : awan ini berwarna putih, tipis, berserat dan terdiri dari kristal es.
Hujan
Hujan adalah air yang jatuh ke permukaan bumi sebagai akibat terjadinya kondensasi dari partikel-pertikel air di langin/awan. Awan yang terbentuk sebagai hasil dari kondensasi uap air akan terbawa oleh angin, sehingga berpeluang untuk tersebar ke seluruh permukaan bumi.
Pembentukan Hujan
Supaya dapat menghasilkan hujan butir-butir awan harus tumbuh menjadi cukup besar sehingga gaya berat cukup untuk melawan arus udara naik. Ada beberapa teori yang membahas pembentukan hujan diantaranya teori Bergeron dan teori Tumbukan & Penyatuan (Collision).
Sifat Hujan
Sifat hujan ditetapkan berdasarkan pada perbandingan antara jumlah curah hujan dalam sebulan dengan nilai rata-rata atau normalnya pada bulan yang bersangkutan di suatu tempat.
Tipe-tipe Hujan
Berdasar gerakan udara naik untuk membentuk awan tipe hujan dapat digolongkan
menjadi :
Hujan Konveksi
Dihasilkan dari naiknya udara hangat dan lembab dengan proses penurunan suhu secara adiabatik. Hujan biasanya lebat tapi pada daerah yang terbatas dan sering disertai guntur. Hujan yang demikian kurang efektif bagi pertanian tetapi sangat efektif untuk timbulnya erosi.
Hujan Orografik
Dihasilkan oleh naiknya udara lembab secara paksa oleh dataran tinggi atau pegunungan. Curah hujan di dataran tinggi biasanya lebih tinggi daripada dataran rendah sekitarnya terutama pada arah hadap angin (windward)
Hujan Gangguan
Tipe hujan yang termasuk dalam kelompok hujan gangguan adalah hujan siklonik dan hujan frontal.
Awan mendung menjadi hujan ?
Karakteristik hujan sangat bervariasi dari tempat ke tempat, hari ke hari, dan bulan ke bulan, dan juga dari tahun ke tahun.
Banyak yang mengatakan, jika awan mendung itu berarti hujan, namun tak semua awan yang mendung akan menjadi hujan kenapa.? Ukuran butiran air yang berasal dari awan akan jatuh ke bumi dengan beragam ukuran . Butiran air yang berdiameter lebih dari 0,5 mm akan sampai ke permukaan bumi dan dikenal sebagai air hujan. Ukuran butiran antara 0,2–0,5 mm akan juga sampai ke permukaan bumi, dikenal sebagai gerimis (drizzel), sedangkan ukuran butiran yang kurang dari 0,2 mm tidak akan sampai ke permukaan bumi karena akan menguap dalam perjalanannya menuju permukaan bumi.
Supaya dapat menghasilkan hujan butir-butir awan harus tumbuh menjadi cukup besar sehingga gaya berat cukup untuk melawan arus udara naik.
Tak selamanya awan yang mendung akan menjadi hujan, karena jika dilihat awan hanya sekedar mendung tetapi ukuran dari awan besar atau tidaknya,telah dijelaskan diatas agar mendapatkan butir – butiran, awan harus tumbuh besar, dalam arti awan harus besar dan memiliki ukuran yang cukup besar,agar berat yang dimiliki awan dapat melawan arus naik udara. Pola dari curah hujan di suatu wiliyah juga menentukan apakah awan yang mendung akan menjadi hujan atau tidak ?
Pola curah hujan disuatu daerah ( Indonesia ) dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satu diantaranya adalah :
Keberadaan dua benua yang mengapit kepulauan Indonesia, yakni Benua Asia dan Benua Australia akan mempengaruhi pola pergerakan angin di wilayah Indonesia. Arah angin sangat penting peranannya dalam mempengaruhi pola curah hujan. Jika angin berhembus dari arah Samudera Pasifik atau Samudera Indonesia, maka angin tersebut akan membawa udara lembab ke wilayah Indonesia yang akan mengakibatkan curah hujan di wilayah Indonesia menjadi tinggi, sebaliknya jika angin berhembus dari arah daratan Benua Asia dan Benua Australia, angin tersebut akan mengandung sedikit uap air (kering) sehingga proses kondensasi secara alamiah tidak dapat berlangsung, Akibatnya tentu saja tidak akan terjadi hujan.
Keberadaan deretan pegunungan. Pegunungan merupakan penghalang fisik bagi pergerakan angin. Jika angin lembab pegerakannya terhalang oleh keberadaan pegunungan, maka curah hujan untuk sisi arah datang angin lembab akan tinggi dan pada sisi pegunungan di sebelahnya curah hujan akan sangat rendah. Daerah dengan curah hujan rendah ini disebut daerah bayangan hujan. Sebagai contoh Pegunungan Bukit Barisan di Pulau Sumatera berada pada posisi tegak lurus terhadap arah angin yang membawa udara lembab dari Samudera Indonesia. Sebagai akibatnya, curah hujan pada wilayah pantai barat pulau Sumatera (di sebelah barat Pegunungan Bukit Barisan) sangat tinggi, sedangkan untuk wilayah di sebelah timur Bukit Barisan curah hujannya jauh lebih rendah.
Jadi banyak yang menjadi faktor, apakah awan yang mendung akan menjadi hujan atau tidak. Pada pembahasan diatas telah menjelaskan sedikit dari hujan dan awan yang saling berhubungan. Dengan demikian kesimpulan yang dapat diambil adalah tak selamanya awan yang mendung menjadi hujan.
Anemometer
Alat ini sangat sederhana sekali, pembacaan arah angin bertiup dapat dilihat skala mata angin yang dipasang pada bagian bawah alat.
Kemana arah panah menunjuk berate pada arah tersebutlah angin bertiup. Untuk pembacaan kecepatan angin sesaat dilakukan dengan melihat bagian papan besi bergerak seberapa jauh menunjukan ke bujur pengukur. Alat pembacaan kecepatan angin terletak dibagian atas pengukur arah angin sehingga ketika pengukur arah angin berputar alat ini juga ikut berputar. Skala pembacaan dalam m/detik. Tinggi alat ini sekitar 15 meter dengan tiang penyangga besi. Kekurangan alat ini adalah kurang peka terhadap pengukuran angin dengan kecepatan rendah dan ketelitiannya rendah, sedangkan kelebihannya pembacaan mudah dilakukan dan data tidak perlu diolah kembali.
1. Pengukuran Suhu Udara dan Kelembaban Udara
Alat yang digunakan untuk mengukur temperatur dikenal dengan nama termometer. Di stasiun klimatologi BB Padi Sukamandi termometer yang biasa digunakan di lapangan adalah :
a. Temperatur maksimum digunakan termometer gelas air raksa atau termograf bimetal
b. Temperatur minimum digunakan termometer gelas alkohol atau termograf bimetal
c. Temperatur bola basah/kering digunakan termometer gelas air raksa
Masing-masing termometer diatas ditempatkan didalam sangkar cuaca.
a) Sangkar Cuaca
Termometer jarang ditempatkan di udara terbuka. Termometer dan termograf membutuhkan perlindungan dari sinar matahari langsung tetapi harus sedikit mungkin mengurangi angin. Untuk ini biasanya dibuat sangkar yang disebut dengan sangkar cuaca yang dapat melindungi alat dari matahari, salju, kabut dan hujan serta gangguan binatang. Sangkar cuaca ini harus dilengkapi dengan ventilasi yang baik, bebas dari pergerakan udara baik dari samping maupun arah vertikal.
Alat ini terbuat dari kayu dengan berbagai bentuk dan ukuran, baik bagian dalam maupun bagian luarnya dicat putih. Bentuknya menyerupai rumah, dengan ukuran disesuaikan dengan jumlah dan macam alat pengukur yang diletakkan di dalamnya. Sangkar dipasang di taman alat dengan pintu terletak di Utara atau di Selatan agar bila dibuka pada pagi atau sore hari alat tidak kena sinar matahari langsung. Sangkar cuaca pada bagian lantainya tertutup dan untuk memudahkan pengamatan dipasang dengan ketinggian kira-kira 120 cm diatas permukaan tanah yang berumput pendek. Pemasangan sangkar harus kokoh tidak boleh terganggu goncangan.
Termometer maksimum
Termometer maksimum adalah termometer untuk mengetahui temperatur tertinggi selama waktu yang diamati. Termometer ini merupakan termometer gelas air raksa biasa kecuali pada tabung kapiler yang mendekati bola tempat air raksa atau reservoarnya dibuat sekat menyempit atau di bagian atas cairan ada jarum penunjuk dari bahan kaca sebagai indek pembacaan. Pada saat temperatur naik, air raksa naik terdorong melalui penyempitan tadi atau mendorong jarum penunjuk sampai temperatur maksimum dicapai dan bila temperatur turun kembali air raksa yang melawati penyempitan tidak kembali lagi atau jarum penunjuk atau indek tadi tetap berada di posisi maksimum atau tidak ikut turun, sehingga apabila akan digunakan untuk pengukuran berikutnya alat harus diset kembali dengan cara alat atau termometernya dikibas-kibaskan. Ujung sebelah atas termometer dipegang dan tangan lurus setinggi bahu kemudian ayunlah ke bawah dengan cepat dan hati- hati, maka air raksa atau indeknya akan turun karena adanya daya sentrifugal. Pengukuran dengan alat ini dilakukan setiap jam 17.30 sore. Termometer ini dipasang mendatar ditempatkan pada bagian bawah termometer minimum. Termometer ini memiliki kelebihan yaitu kerusakan alat jarang terjadi karena faktor penggunaan yang salah misalnya pecahnya kaca termometer, sehingga kehilangan data karena kerusakan alat dapat diminimalisir sebab pencatatan data dilakukan setiap saat. Termometer ini juga memiliki kekurangan yaitu pembacaan yang dilakukan termometer ini lambat.
Termometer minimum
Temperatur minimum digunakan untuk mengukur suhu terendah dalam suatu periode pengukuran umumnya diukur dengan menggunakan termometer gelas alkohol, yang mempunyai titik beku –114.9 °C. Pada alkohol dalam tabung kecil terdapat jarum penunjuk sebagai indek pembacaaan. Pada saat temperatur turun kontraksi dari alkohol akan mendorong indek tadi dan temperatur minimum diperlihatkan oleh posisi ujung indek sebelah kanan atau yang berlawan dengan reservoar. Pada saat temperatur naik, cairan berkembang dan mengalir melewati indek, dan posisi indek tetap pada posisi minimum. Di dalam sangkar cuaca termometer minimum ini dipasang dalam posisi hampir mendatar dengan kemiringan kira-kira 3° dengan reservoar berada di ujung bawah. Pembacaan mendekati 0,1 °C. Pengamatan temperatur minimum dilakukan pagi hari jam 06.30 karena suhu terendah adalah pada malam hari, sehingga pembacaaan baru dapat dilakukan pada pagi hari. Kelebihan dan kekurangan alat ini sama dengan temperature maksimum.
4) Termometer bola basah dan bola kering
Termometer bola basah dan bola kering adalah dua thermometer gelas air raksa biasa yang dipasang tegak, dimana yang satu dibagian reservoarnya dibalut dengan kain yang dapat menyerap air, seperti kain kaos atau kain perban yang dicelupan kedalam air di gelas yang disimpan di bawah termometer, sebagai thermometer bola basah dan yang satu lagi tidak di apa apakan sebagai termometer bola kering. Dengan mengetahui temperatur bola basah dan bola kering melalui tabel konversi yang sudah tersedia dapat ditentukan kelembaban udara di tempat. Pengukuran waktu pengamatan dilakukan 3 kali sehari, yaitu pagi hari pkl 06.30, siang hari pkl 13.30 dan sore hari pkl 17.30, sehingga diperoleh data kelembaban udara pagi hari, siang hari dan sore hari. Kelebihan penggunaan alat ini adalah dapat digunakan dengan mudah tanpa memerlukan keahlian khusus, sedangkan kekurangannya pembacaan suhu udara lambat dan pengukuran kelembaban harus diolah kembali dari data yang diperoleh.
Cara mengukur suhu udara harian dan kelembaban harian dari alat tersebut adalah :
a. Dari termometer minimum yang dibaca pada pagi hari jam 06.30 akan didapat suhu udara minimum hari itu.
b. Dari termometer maksimum yang dibaca pada sore hari akan didapat suhu udara maksimum pada hari itu.
c. Dari termometer bola kering akan didapat suhu udara sesaat misalnya pagi hari, siang hari, atau sore hari.
d. Dari termometer bola basah dan bola kering akan didapat kelembaban udara harian. Hasil pengukuran termometer bola kering dikurangi dengan hasil pengukuran suhu pada bola basah. Nilai selisih ini kemudian menghasilkan presentase kelembaban nisbi dengan bantuan table kelembaban.
Cara mengukur suhu udara mingguan di stasiun klimatologi tidak dilakukan tetapi dilakukan setiap 10 hari. Dengan cara hasil pengukuran suhu harian diambil suhu rata-rata per 10 hari. Cara mengukur suhu udara bulanan, yaitu dari hasil rata-rata suhu udara per bulan.
2. Pengukuran Kecepatan Angin Rata-rata, Kecepatan Angin Sesaat dan Arah Angin
Untuk pengukuran kecepatan angin rata-rata digunakan alat cup counter anemometer, kecepatan angin sesaat dan arah angin digunakan alat pengukur kecepatan dan pengukur arah angin sederhana (anemometer).
a. Cup counter anemometer
Alat ini terdiri dari tiga cawan yang dibuat berbentuk kerucut dihubungkan oleh lengan yang dihubungkan oleh as. Alat ini dipasang pada tiang penyangga dengan tinggi 2 meter terbuat dari besi, posisi tiang penyangga benar-benar tegak lurus (vertikal). Pada alat dilengkapi dengan alat penghitung jumlah putaran (counter) yang telah dikalibrasi dalam satuan km/jam. Alat ini kurang peka terhadap kecepatan angin lemah (<0,5 m/detik), tetapi kekurangan ini dapat diabaikan dalam praktik dan data hasil pengukuran masih harus diolah kembali. Kelebihannya adalah pembacaan dengan alat ini mudah dilakukan. Pengukuran kecepatan angin dengan alat ini dilakukan dengan melihat penghitung jumlah putaran (counter) pada waktu pagi hari pkl 06.30, siang hari pkl 13.30 dan sore hari pkl 17.30, sehingga diperoleh data kecepatan angin pagi hari, siang hari dan sore hari.
Cara pehitungannya yaitu selisih hasil pengukuran pada sore hari (pengukuran hari kemarin) dan hasil pengukuran pagi hari dibagi jumlah jam (misalnya pengukuran sore hari dilakukan pkl 17.30 dan pagi hari pkl 06.30 maka dari pkl 17.30 sampai pkl 06.30 adalah 13 jam) maka akan didapat hasil kecepatan udara pagi hari. Untuk penghitungan kecepatan angin siang hari dihitung dari selieih kecepatan angin pagi hari dan siang hari dibagi jumlah jam, dan begitu seterusnya.
Sistem mutu
Laboratorium harus menetapkan, menerapkan dan memelihara sistem mutu yang sesuai dengan lingkup kegiatannya. Laboratorium harus mendokumentasikan kebijakan, sistem, program, prosedur, dan instruksi sejauh yang diperlukan untuk menjamin mutu hasil pengujian dan/atau kalibrasi.
Dokumentasi sistem mutu harus dikomunikasikan kepada, dimengerti oleh, tersedia bagi, dan diterapkan oleh semua personel yang terkait.
Kebijakan dan tujuan sistem mutu laboratorium harus ditetapkan dalam panduan mutu (atau apapun namanya). Tujuan keseluruhan harus didokumentasikan dalam pernyataan kebijakan mutu. Pernyataan kebijakan mutu harus diterbitkan di bawah kewenangan pimpinan tertinggi organisasi. Pernyataan kebijakan mutu tersebut harus mencakup sedikitnya :
a) komitmen manajemen laboratorium pada praktek profesional yang baik dan pada mutu pengujian dan kalibrasi dalam melayani pelanggan;
b) pernyataan manajemen untuk standar pelayanan laboratorium;
c) tujuan dari sistem mutu;
d) persyaratan yang menyatakan bahwa semua personel yang terlibat dala kegiatan pengujian dan kalibrasi di laboratorium harus memahami dokumentasi mutu dan menerapkan kebijakan serta prosedur di dalam pekerjaan mereka; dan
e) komitmen manajemen laboratorium pada kesesuaian dengan Standar ini.
Pernyataan kebijakan mutu sebaiknya ringkas dan mencakup persyaratan bahwa pengujian dan/atau kalibrasi harus selalu dilakukan sesuai dengan metode yang telah ditetapkan dan persyaratan pelanggan. Apabila laboratorium pengujian dan/atau kalibrasi merupakan bagian dari organisasi yang lebih besar, beberapa unsur kebijakan mutu dapat ditempatkan pada dokumen-dokumen yang lain.
Panduan mutu harus mencakup atau menjadi acuan untuk prosedur pendukung
termasuk juga prosedur teknisnya. Hal ini harus menggambarkan struktur dokumentasi yang
digunakan dalam sistem mutu.
Peranan dan tanggung jawab manajemen teknis dan manajer mutu termasuk tanggung jawab mereka untuk memastikan kesesuaian dengan Standar ini harus ditetapkan dalam panduan mutu.
C. Pengendalian dokumen
Yang temasuk dokumen adalah peraturan, standar atau dokumen normatif lain, metode pengujian, gambar, perangkat lunak, spesifikasi, intruksi dan panduan, yang dapat dinyatakan seperti pernyataan kebijakan, prosedur, spesifikasi alat atau barang, table kalibrasi, grafik, buku teks, poter, catatan, memo rencana lain – lain. Dokumen tersebut dapat direkam dalam bentuk cetakan, elektronik, digital, analog atau fotografik.
Laboratorium harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengendalikan semua dokumen yang merupakan bagian dari sistem mutu (dibuat secara internal atau dari sumber eksternal), seperti peraturan, standar, atau dokumen normatif lain, metode pengujian
dan/atau kalibrasi, demikian juga gambar, perangkat lunak, spesifikasi, instruksi dan panduan.
Pengesahan dan penerbitan dokumen, semua dokumen yang diterbitkan untuk personel di laboratorium yang merupakan bagian dari sistem mutu harus dikaji ulang dan disahkan oleh personel yang berwenang sebelum diterbitkan. Daftar induk atau prosedur pengendalian dokumen yang setara, yang menunjukkan status revisi yang terakhir dan distribusi dokumen dalam sistem mutu, harus dibuat dan mudah didapat untuk menghindarkan penggunaan dokumen yang tidak sah dan/atau kadaluwarsa.
Prosedur yang diberlakukan harus dipastikan bahwa:
a) edisi resmi dari dokumen yang sesuai tersedia di semua lokasi tempat dilakukan
kegiatan yang penting bagi efektifitas fungsi laboratorim;
b) dokumen dikaji ulang secara berkala, dan bila perlu, direvisi untuk memastikan
kesinambungan kesesuaian dan kecukupannya terhadap persyaratan yang diterapkan;
c) dokumen yang tidak sah atau kadaluwarsa ditarik dari semua tempat penerbitan atau
penggunaan, atau dengan cara lain yang menjamin tidak digunakannya dokumen
tersebut;
d) dokumen kadaluwarsa yang disimpan untuk keperluan legal atau untuk maksud suaka
pengetahuan diberi tanda sesuai.
Dokumen sistem mutu yang dibuat oleh laboratorium harus diidentifikasi secara
khusus. Identifikasi tersebut harus mencakup tanggal penerbitan dan/atau identifikasi revisi, penomoran halaman, jumlah keseluruhan halaman atau tanda yang menunjukkan akhir dokumen, dan pihak berwenang yang menerbitkan.
Perubahan dokumen
Perubahan pada dokumen harus dikaji ulang dan disahkan oleh fungsi yang sama yang melakukan kaji ulang sebelumnya kecuali bila ditetapkan lain. Personel yang ditunjuk harus memiliki akses ke informasi latar belakang terkait yang mendasari kaji ulang dan pengesahannya.
Apabila memungkinkan, teks yang telah diubah atau yang baru harus diidentifikasi
di dalam dokumen atau lampiran yang sesuai. Jika sistem pengendalian dokumen laboratorium membolehkan diberlakukan adanya amandemen dokumen dengan tulisan tangan,sebelum penerbitan kembali dokumen yang bersangkutan, maka prosedur dan kewenangan untuk melakukan amandemen itu harus ditetapkan. Dokumen yang telah direvisi harus secara formal diterbitkan kembali sesegera mungkin.
Harus ada prosedur yang menjelaskan cara dilakukan dan dikendalikannya perubahan dokumen yang disimpan dalam sistem komputer.
