Pertanian organik dapat meminimalisasikan dampak perubahan iklim di bumi “
Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan “Back to Nature” telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.
Pada saat yang sama, pertanian organik merupakan solusi yang bisa diharapkan dapat meminimalisasi dampak perubahan iklim akibat pemanasan global bumi. Pertanian organik adalah sistem pertanian yang berorientasi ekologi, berkelanjutan dan ramah lingkungan. Sistem pertanian ini berpijak kepada kesuburan tanah sebagai kunci keberhasilan produksi dengan memperhatikan kemampuan alami dari tanah, tanaman, dan hewan untuk menghasilkan kualitas baik bagi hasil pertanian maupun lingkungan. Beberapa bukti juga menjelaskan bahwa pertanian organik dapat meminimalisasi dampak perubahan iklim, diantaranya:
Pertanian organik sebagai sistem pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan ternyata tidak hanya menghasilkan produk yang sehat. Pertanian yang mengutamakan keselarasan alam ini juga mempunyai potensi dalam mitigasi perubahan iklim. Penggunaan pupuk organik ternyata mampu mengurangi sekitar 30 % emisi gas rumah kaca (GRK) dan menghemat 16 % energi global. Tanpa penggunaan pupuk N akan mengurangi emisi nitroksida 5%. Laporan United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO) 2002 menyebutkan, pertanian organik menyebabkan ekosistem mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim dan berpotensi mengurangi gas rumah kaca pertanian. Pertanian organik juga lebih efisien daripada pertanian konvensional per skala hektar berkaitan dengan konsumsi pupuk dan pestisida sintesis.
Pertanian organik menggunakan energi fosil lebih rendah dibandingkan pertanian konvensional. Dalam pertanian organik yang mengutamakan produksi konsumsi dan distribusi di tingkat lokal, menyebabkan energi yang dikeluarkan untuk mengangkut produk terutama melalui udara lebih rendah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di tahun 2001, emisi gas GRK terkait transportasi pangan dari ladang lokal ke pasar petani, 650 kali lebih rendah dibandingkan emisi yang berkaitan dengan penjualan produk di pasar swalayan.
Sementara itu uji coba yang dilakukan Rodale Institute menunjukkan, penggunaan energi dalam sistem konvensional 200% lebih tinggi daripada sistem organik. Sedangkan penelitian di Finlandia menyebutkan bahwa walaupun pertanian organik menggunakan jumlah jam mesin yang lebih banyak daripada pertanian konvensional, konsumsi energi keseluruhan di pertanian organik tetap paling rendah.
Penggunaan pupuk organik juga dapat mengurangi pelepasan nitrogen (N). Dengan menggunakan sistem pemulsaan dan pupuk serasah, penyerapan N bergerak di tanah terjadi secara efisien. Pemulsaan dan pupuk serasah dapat berfungsi untuk:
o Menghemat air.
o Mencegah nutrisi dalam tanah mengalami pencucian dan penghanyutan oleh air hujan.
o Menghambat pertumbuhan gulma.
o Mencegah penyakit tanaman yang timbul akibat percikan air tanah oleh air hujan.
o Menjadi sumber humus.
o Memperlancar kegiatan jasad renik tanah seperti cacing tanah yang sangat membantu petani dalam penyuburan tanah.
o Mengurangi erosi tanah.
o Menghambat evaporasi (penguapan) tanah yang berlebihan karena adanya bahan pelindung terhadap radiasi matahari.
o Memperbesar kapasitas penyerapan air ke dalam pori-pori tanah.
o Mempertahankan kelembaban dan suhu tanah sehingga mendorong penyerapan unsur hara oleh akar-akaran.
o Mulsa yang telah lapuk akan memperkaya bahan organik tanah, sehingga dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.
Pertanian organik dapat membantu menstabilkan perubahan iklim dengan mempertahankan kualitas tanah organik seperti mengurangi erosi tanah dan meningkatkan struktur fisik tanah. Tanah organik akan lebih baik menyimpan air sehingga dapat menahan dampak perubahan iklim seperti kekeringan dan banjir.
Pertanian organik dapat mengoptimalkan jumlah dan aplikasi pupuk organik, mengintegrasikan produksi tanaman dengan binatang ternak dan daur ulang sampah organik secara sistematis, memperbaiki teknik pengolahan sampah organik untuk menghasilkan pupuk berkualitas tinggi, yaitu dengan melakukan pengomposan hewan dan tanaman. Dengan melalui pengomposan pelepasan residu dalam proses humification diminimalkan, selain itu pengomposan juga dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat C di bawah tanah. Sehingga dapat mengurangi CO2 di atmosfir. Selain itu pergiliran tanaman dan penanaman tanaman polong-polongan sebagai karakteristik pertanian organik juga membantu meningkatkan karbon organik tanah (oil organic carbon atau SOC). Hasil studi 20 perusahaan komersial California menemukan bahwa lahan organik mengandung 28 % lebih karbon organik. Demikian juga hasil uji coba Rodale Institute bahwa karbon tanah meningkat pada sistem organik setelah 15 tahun namun tidak pada sistem konvensional. Setelah 22 tahun, sistem pertanian organik rata-rata 30 % lebih tinggi kandungan organiknya daripada sistem konvensional.
Jadi Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat. Dan dengan menggunakan pertanian organik juga dapat meminimalisasikan dampak perubahan iklim di bumi.
“ Manfaat Klimatologi Bagi Pertanian “
Pengertian Klimatologi
Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari iklim, dan merupakan sebuah cabang dari ilmu atmosfer. Dikontraskan dengan meteorologi yang mempelajari cuaca jangka pendek yang berakhir sampai beberapa minggu, klimatologi mempelajari frekuensi di mana sistem cuaca ini terjadi.
Dalam kehidupan sehari-hari, iklim akan mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan pada suatu kawasan, dan teknik budidaya yang dilakukan petani. Dengan demikian pengetahuan iklim sangat penting artinya dalam sektor pertanian. Hal ini tercermin dengan berkembangnya cabang klimatologi dan meteorology yang khusus dikaitkan dengan kegiatan pertanian yang disebut klimatologi pertania.
Iklim akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia dan organisme lain yang hidup di muka bumi. Jenis dan sifat Iklim juga akan mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan pada suatu kawasan serta produksinya, penjadwalan budidaya pertanian, dan teknik budidaya yang dilakukan petani. Pengetahuan tentang iklim sangat penting artinya dalam sektor pertanian.
Manfaat Klimatologi Bagi Pertanian
Klimatologi merupakan ilmu tentang atmosfer. Mirip dengan meteorologi, tapi berbeda dalam kajiannya, meteorologi lebih mengkaji proses di atmosfer sedangkan klimatologi pada hasil akhir dari proses2 atmosfer.
Klimatologi berasal dari bahasa Yunani Klima dan Logos yang masing2 berarti kemiringan (slope) yg di arahkan ke Lintang tempat sedangkan Logos sendiri berarti Ilmu. Jadi definisi Klimatologi adalah ilmu yang mencari gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda , dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia. Karena klimatologi memerlukan interpretasi dari data2 yang banyak dehingga memerlukan statistik dalam pengerjaannya, orang2 sering juga mengatakan klimatologi sebagai meteorologi statistik (Tjasyono, 2004)
Iklim merupakan salah satu faktor pembatas dalam proses pertumbuhan dan produksi tanaman. Jenis2 dan sifat2 iklim bisa menentukkan jenis2 tanaman yg tumbuh pada suatu daerah serta produksinya.
Oleh karena itu kajian klimatologi dalam bidang pertanian sangat diperlukan. Seiring dengan dengan semakin berkembangnya isu pemanasan global dan akibatnya pada perubahan iklim, membuat sektor pertanian begitu terpukul. Tidak teraturnya perilaku iklim dan perubahan awal musim dan akhir musim seperti musim kemarau dan musim hujan membuat para petani begitu susah untuk merencanakan masa tanam dan masa panen. Untuk daerah tropis Indonesia, hujan merupakan faktor pembatas penting dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian.
Selain hujan, unsur iklim lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah suhu, angin, kelembaban dan sinar matahari.
Setiap tanaman pasti memerlukan air dalam siklus hidupnya, sedangkan hujan merupakan sumber air utama bagi tanaman. Berubahnya pasokan air bagi tanaman yg disebabkan oleh berubahnya kondisi hujan tentu saja akan mempengaruhi siklus pertumbuhan tanaman. Itu merupakan contoh global pengaruh ikliim terhadap tanaman. Di indonesia sendiri akibat dari perubahan iklim, yaitu timbulnya fenomena El Nino dan La Nina. Fenomena perubahan iklim ini menyebabkan menurunnya produksi kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit bila tidak mendapatkan hujan dalam 3 bulan berturut-turut akan menyebabkan terhambatnya proses pembungaan sehingga produksi kelapa sawit untuk jangka 6 sampai 18 bulan kemudian menurun. Selain itu produksi padi juga menurun akibat dari kekeringan yang berkepanjangan atau terendam banjir. Akan tetapi pada saat fenomea La Nina produksi padi malah meningkat untuk masa tanam musim ke dua.
Selain hujan, ternyata suhu juga bisa menentukkan jenis2 tanaman yg hidup di daerah2 tertentu. Misalnya perbedaan tanaman yang tumbuh di daerah tropis, gurun dan kutub. Indonesia merupakan daerah tropis, perbedaan suhu antara musim hujan dan musim kemarau tidaklah seekstrim perbedaan suhu musim panas dan musim kemarau di daerah2 sub tropis dan kutub. Oleh karena itu untuk daerah tropis, klasifikasi suhu lebih di arahkan pada perbedaan suhu menurut ketinggian tempat. Perbedaan suhu akibat dari ketinggian tempat (elevasi) berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Sebagai contoh, tanaman strowbery akan berproduksi baik pada ketinggian di atas 1000 meter, karena pada ketinggian 1000 meter pebedaan suhu antara siang dan malam sangat kontras dan keadaan seperti inilah yg dibutuhkan oleh tanaman strowbery.
Jadi keeratan hubungan antara klimatologi dengan ilmu pertanian tercermin dengan berkembangnya cabang klimatologi yang khusus dikaitkan dengan kegiatan pertanian, yang disebut sebagai agroklimatologi. Agroklimatologi atau klimatologi pertanian adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara unsur-unsur iklim dengan proses kehidupan tanaman. Yang dipelajari dalam agroklimatologi adalah bagaimana unsur-unsur iklim itu berperan di dalam kehidupan tanaman. Unsur-unsur iklim yang langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman meliputi, curah hujan, kelembaban udara, suhu udara, angin, cahaya dan panjang hari.
Penyerbukan Bunga
Teori pertama tentang sistem pewarisan yang dapat diterima kebenarannya dikemukakan oleh Gregor Mendel pada tahun 1865. Teori ini diajukan berdasarkan penelitian persilangan berbagai varietas kacang kapri (Pisum sativum). Dalam percobaannya Mendel memilih tanaman yang memiliki sifat biologi yang mudah diamati. Berbagai alasan dan keuntungan menggunakan tanaman kapri yaitu,
(a) Tanaman kapri tidak hanya memiliki bunga yang menarik, tetapi juga memiliki mahkota yang tersusun sehingga melindungi bunga kapri terhadap fertilisasi oleh serbuk sari dari bunga yang lain. Hasilnya, tiap bunga menyerbuk sendiri secara alami; (b) Penyerbukan silang dapat dilakukan secara akurat dan bebas, dapat dipilih mana tetua jantan dan betina yang diinginkan; (c) Mendel dapat mengumpulkan benih dari tanaman yang disilangkan, kemudian menumbuhkannya dan mengamati karakteristik (sifat) keturunannya.
Mendel mempelajari beberapa pasang sifat pada tanaman kapri. Masing-masing sifat yang dipelajari adalah: tinggi tanaman, warna bunga, bentuk biji, dan lain-lain yang bersifat dominan dan resesif. Mula-mula Mendel mengamati dan menganalisis data untuk setiap sifat, dikenal dengan istilah monohibrid. Selain itu Mendel juga mengamati data kombinasi antar sifat, dua sifat (dihibrid), tiga sifat (trihibrid) dan banyak sifat (polihibrid). Hasil percobaannya ditulis dalam makalah yang berjudul Experiment in Plant Hybridization.
Varietas-varietas yang disilangkan disebut tetua atau parental (P). Biji-biji hasil persilangan antar parental disebut biji filial-1 (F1). Ciri-ciri F1 dicatat dan bijinya ditanam kembali. Tanaman yang tumbuh dari bij F1 dibiarkan menyerbuk semdiri untuk menghasilkan biji generasi berikutnya (F2). Dalam percobaannya Mendel mngamati sampai generasi F7, dan juga melakukan persilangan antara F1 dengtan salah satu tetuanya (test cross).
Hasil percobaan monohibrid menunjukkan bahwa pada seluruh tanaman F1 hanya ciri (sifat) dari alah satu tetua yang muncul. Pada generasi F2, semua ciri yang dipunyai oleh tetua (P) yang disilangkan muncul kembali. Ciri sifat tetua yang hilang pada F1 terjadi karena tertutup, kemudian disebut ciri resesif, dan yang menutupi disebut dominan. Dari seluruh percobaab monohibrid untuk 7 sifat yang diamati, pada F2 terdapat perbandingan yang mendekati 3:1 antara jumlah individu dengan ciri dominan:resesif.
Sebagai salah satu kesimpulan dari percobaan monohibridnya, Mendel menyatakan bahwa setiap sifat organisme ditentukan oleh faktor, yang kemudian disebut gen. Faktor tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam setiap tanaman terdapat dua faktor (sepasang) untuk masing-masing sifat, yang kemudian dikenal dengan istilah 2 alel; satu faktor berasal dari tetua jantan dan satu lagi berasal dari tetua betina. Dalam penggabungan tersebut setiap faktor tetap utuh dan selalu mempertahankan identitasnya. Pada saat pembentukkan gamet, setiap faktor dapat dipisah kembali secara bebas. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Hukum Mendel I, yaitu hukum segregasi. Perbandingan pada F2 untuk ciri dominan : resesif = 3 : 1, terjadi karena adanya proses penggabungan secara acak gamet-gamet betina dan jantan dari tanaman F1. Bukti-bukti Mendel untuk menjelaskan teori partikulat mengenai pewarisan: (a) Persilangan tanaman tinggi dan pendek; (b) Pada generasi F1 semua keturunan (zuriat) berbatang tinggi; (c) Pada generasi F2 26% berbatang pendek dan 74% berbatang tinggi.
Penyerbukan
Penyerbukan atau polinasi adalah transfer serbuk sari/polen ke kepala putik (stigma). Kejadian ini merupakan tahap awal dari proses reproduksi (Ashari,1998).
Menurut Elisa (2004) penyerbukan merupakan :
- Pengangkutan serbuk sari (pollen) dari kepala sari (anthera) ke putik (pistillum)
- Peristiwa jatuhnya serbuk sari (pollen) di atas kepala putik (stigma).
Bunga merupakan alat reproduksi yang kelak menghasilkan buah dan biji. Di dalam biji ini terdapat calon tumbuhannya (lembaga). Terjadi buah dan biji serta calon tumbuhan baru tersebut karena adanya penyerbukan dan pembuahan. Penyerbukan merupakan jatuhnya serbuk sari pada kepala putik (untuk golongan tumbuhan berbiji tertutup) atau jatuhnya serbuk sari langsung pada bakal biji (untuk tumbuhan berbiji telanjang) (Sutarno dkk,1997).
Menurut Ashari (1998) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses polinasi berjalan lancar dengan hasil optimal, antara lain :
1.Sistem penyilangan (breeding system) dan variasi jenis kelamin yang menentukan perlunya penyerbukan silang.
2.Saat penyebaran serbuk sari, reseptimatis stigma induk bunga, seluruh tanaman/ pohon yang dikaitkan dengan aktivitas harian serta musiman vektor penyebuk.
3.Vektor yang berperan dalam penyerbukan.
4.Pengaruh cuaca terhadap sinkronisasi pembungaan, penyebaran serbuk sari, serta aktivitas vektor.
Macam penyerbukan di alam
Menurut Elisa (2004) penyerbukan dapat dibedakan menjadi :
1.Penyerbukan tertutup ( kleistogami )
Terjadi jika putik diserbuki oleh serbuk sari dari bunga yang sama. Dapat disebabkan oleh :
• Putik dan serbuk sari masak sebelum terjadinya anthesis (bunga mekar)
• Konstruksi bunga menghalangi terjadinya penyerbukan silang (dari luar), misalnya pada bunga dengan kelopak besar dan menutup. Contoh : familia Papilionaceae
2.Penyerbukan terbuka(kasmogami)
Terjadi jika putik diserbuki oleh serbuk sari dari bunga yang berbeda. Hal ini dapat terjadi jika putik dan serbuk sari masak setelah terjadinya anthesis (bunga mekar)
Beberapa tipe penyerbukan terbuka yang mungkin terjadi :
a.Autogamie : putik diserbuki oleh serbuk sari dari bunga yang sama
b. Geitonogamie: putik diserbuki oleh serbuk sari dari bunga yang berbeda, dalam pohon yg sama
c. Allogamie (Silang): putik diserbuki oleh serbuk sari dari tanaman lain yg sejenis
d. Xenogamie (asing): putik diserbuki oleh serbuk sari dari tanaman lain yg tidak sejenis
Beberapa tipe bunga yang memungkinkan terjadinya penyerbukan terbuka :
a.Dikogami
Putik dan benang sari masak dalam waktu yang tidak bersamaan.
•Protandri : benang sari lebih dahulu masak daripada putik
•Protogini : putik lebih dahulu masak daripada benang sari
b.Herkogami
Bunga yang berbentuk sedemikian rupa hingga penyerbukan sendiri tidak dapat terjadi. Misal Panili yang memiliki kepala putik yang tertutup selaput (rostellum).
c.Heterostili
Bunga memiliki tangkai putik (stylus) dan tangkai sari (filamentum) yg tidak sama panjangnya
• tangkai putik pendek (microstylus) dan tangkai sari panjang
• tangkai putik panjang (macrostylus) dan tangkai sari pendek
Tanaman yang mempunyai nilai strategis yang sangat penting, pada umumnya, tidak mempunyai masalah dalam penyerbukan, misalnya tanaman pangan (Padi,Jagung,Palawija dan kedelai). Pada umumnya tanaman tersebut bersifat self fertile, artinya menghasilkan tepung sari yang subur demikian juga putiknya. Jenis bunga tanaman pangan seperti padi, kedelai da kacang hijau adalah sempurna, yaitu dalam sekuntum bunga terdapat bunga jantan (stamen) dan bunga betina (pistil). Hal tersebut memungkinkan terjadinya penyerbukan sendiri (self pollination). Di sisi lain, sekelompok tanaman yang pada umumnya tanaman buah-buahan tahunan bersifat self infertile. Ketidaksuburan tepung sari maupun ketidaknormalan putik menyebabkan permasalahan dalam proses penyerbukan maupun pembuahannya (Ashari,2004).
Pada proses penyerbukan, apabila bunga dalam suatu tanaman memiliki tepung sari yang tidak subur maka bunga tersebut memerlukan tepung sari lain yang subur. Ada juga tanaman yang mempunyai bunga sempurna,namun susunan morfologi bunga tidak memungkinkan terjadinya self pollination, misalnya terpisahnya bunga jantan dan bunga betina (salak dan kurma) atau halangan fisik lainnya Dengan demikian, jenis tanaman tersebut memerlukan polinator baik yang alami seperti angin, serangga, atau hewan mamalia maupun manusia untuk memindahkan tepung sari dari kepala sari ke kepala putiknya.
a. Bunga Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia, namun proyeksi ke depan memperkirakan bahwa pada tahun 2009 Indonesia akan menempati posisi pertama.
Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
• Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
• Mesoskarp, serabut buah
• Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.
b. Bunga Salak
Tanaman S. zalacca var. zalacca umumnya berumah dua (diesis) karena perbungaan jantan dan perbungaan betina terdapat pada tanaman berbeda sehingga tanaman salak yang memiliki perbungaan jantan saja tidak pernah menghasilkan buah. Selama ini S. zalacca var. amboinensis digolongkan sebagai tanaman monoesis karena memiliki bunga jantan dan bunga betina terpisah, namun terdapat dalam satu tanaman (Schuiling & Mogea 1992).
C.bunga kelapa
d. Bunga Anggrek
Anggrek bersifat hermaphrodit, yaitu pollen (serbuk sari) dan putik terdapat didalam satu bunga, sedangkan sifat kelaminnya adalah monoandrae (kelamin jantan dan betina terletak pada satu tempat) sehingga anggrek termasuk tanaman yang mudah mengalami penyerbukan. Penyerbukan dapat terjadi secara tidak sengaja oleh alam, misalnya serangga. Jatuhnya serbuk sari ke kepala putik akan menyebabkan terjadinya penyerbukan, proses ini lebih mudah terjadi pada tipe bunga anggrek yang memiliki zat perekat pada putiknya (discus viscidis). Bunga anggrek yang tidak memiliki zat perekat disebut polinia, sedangkan bunga anggrek yang memiliki perekat disebut polinaria.
Persilangan dilakukan dengan membuka alat kelamin bunga (gymnostemium) anggrek. Lidi atau tusuk gigi ditempelkan pada lempeng perekat di putik bunga, kemudian digunakan untuk mengambil pollen. Pollen diletakkan di kepala putik (stigma). Persilangan yang diikuti dengan penyerbukan diakhiri dengan membuang lidah bunga untuk menghindari serangga menggagalkan penyerbukan, dan memberikan label pada hasil persilangan tersebut.
Persilangan buatan yang dilakukan antar genus hanya baik dilakukan untuk bunga dengan tipe pollen yang sama, yaitu antara polinia-polinia (misal: Cattleya dengan Dendrobium) atau polinaria-polinaria (misal: Vanda dengan Phalaenopsis). Selain itu, faktor kesesuaian (compatibility) juga menentukan factor keberhasilan dalam proses penyerbukan.
Pemilihan tanaman induk tentunya disesuaikan dengan hasil yang diinginkan dalam suatu proses persilangan. Secara garis besar tanaman induk harus sehat, yang dicirikan dengan penampilan fisik segar, hijau, tumbuh tegak, kuat dan kokoh.
Untuk dapat menghasilkan persilangan yang diinginkan, maka perlu diketahui sifat-sifat yang dimiliki oleh tanaman induknya. Sifat-sifat ini ada yang bersifat dominan (sifat yang kuat dan menonjol) dan sifat-sifat yang tidak nampak (resesif, misalnya keawetan bungan dan proses pembungaannya. Sifat-sifat yang diturunkan oleh induk dari hasil persilangan F1 (keturunan pertama) dapat bersifat dominan, resesif ataupun dominan tidak sempurna yaitu mempunyai sifat antara kedua induk (parental). Dalam menghasilkan persilangan yang berkualitas, maka perlu diketahui hukum-hukum keturunan yang dikemukakan oleh Mendel, yaitu:
1. Hukum Dominansi ; apabila tanaman A bersifat dominan terhadap tanaman B, hasil persilangan A x B maka F1-nya akan menyerupai A
2. Hukum Segregasi (hukum Mendel) ; jika tanaman B dan C mempunyai sifat dominan tidak sempurna maka F1 akan mempunyai sifat campuran antara sifat tanaman B dan C. Apabila F1 dilakukan penyerbukan sendiri, maka keturunan F2-nya kemungkinan 50% bersifat BC, 25% bersifat B, dan 25% bersifat C
3. Hukum Dominansi Bebas ; jika tanaman D dan E bersifat dominant sempurna, maka keturunan F1 akan sama dengan induknya, namun pada keturunan F2 akan terjadi pemisahan sifat, yaitu sifat-sifat yang baik akan diturunkan terpisah dengan yang tidak baik. Pada hokum ini akan timbul kesulitan jika terjadi linkage dari gen-gen pembawa sifat.
4. Linkage ; merupakan peristiwa yang menyalahi ketiga hukum diatas, yaitu apabila semua gen penyandi sifat yang berbeda terdapat dalam satu kromosom, sehingga sifat-sifatnya selalu diturunkan bersama-sama.
e. Bunga Jagung
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
Pengukuran Suhu Tanah
Tanah terdiri atas hancuran batu-batuan. Sifat-sifat tanah bergantung pada besar kecilnya partikel-partikel yang merupakan komponen-komponen tanah tersebut.
Tanah mengandung partikel-partikel mineral, sisa-sisa tanaman dan binatang, air, berbagai gas dan komposisi lainnya yang menjadikan tanah tersebut menjadi subur, yang menjamin berlangsungnya kehidupan berbagai makhluk di bumi (Dwijoseputro, 1998).
Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah. Suhu tanah juga disebut intensitas panas dalam tanah dengan satuan derajat Celcius, derajat Fahrenheit, derajat Kelvin dan lain-lain.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Suhu Tanah
Suhu tanah ditentukan oleh interaksi sejumlah faktor. Semua panas tanah berasal dari dua sumber yaitu:
• Radiasi matahari dan awan
• Konduksi dari dalam bumi.
Faktor eksternal (lingkungan) dan internal (tanah) menyumbang perubahan-perubahan suhu tanah.
Pengukuran Suhu Tanah
• Prinsip kerja termometer tanah hampir sama dengan termometer biasa, hanya bentuk dan panjangnya berbeda. Pengukuran suhu tanah lebih teliti daripada suhu udara. Perubahannya lambat sesuai dengan sifat kerapatan tanah yang lebih besar daripada udara.
• Suhu tanah yang diukur umumnya pada kedalaman 5 cm, 10 cm, 20 cm, 50 cm dan 100 cm.
• Termometer tanah untuk kedalaman 50 cm dan 100 cm bentuknya berbeda dengan kedalaman lain. Termometer berada dalam tabung gelas yang berisi parafin, kemudian tabung diikat dengan rantai lalu diturunkan dalam selongsong tabung logam ke dalam tanah sampai kedalaman 50 cm atau 100 cm.
• Pembacaan dilakukan dengan mengangkat termometer dari dalam tabung logam, kemudian dibaca. Adanya parafin memperlambat perubahan suhu ketika termometer terbaca di udara. Termometer tanah pada kedua kedalaman ini bila meruapakan suatu kapiler yang panjang dari mulai permukaan tanah, mudah sekali patah apabila tanah bergerak turun atau pecah karena kekeringan.
1.2. Tujuan
1. Mengenal alat untuk mengukur suhu tanah
2. Mengetahui cara pengukuran suhu tanah
3. Melakukan pengukuran suhu tanah
Masalah Mengenai Pelestarian Plasma Nutfah Tanaman Padi Dari Hasil Persilangan-Nya
Plasma nutfah padi merupakan aset yang sangat penting karena merupakan bahan mentah dalam program pemuliaan untuk merakit jenis-jenis unggul untuk penyediaan/pemenuhan kebutukan manusia. Balai Besar Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (B.B Biogen) melestarikan koleksi sumber daya genetik padi hingga kini berjumlah °± 4000 aksesi.
Di samping itu koleksi padi terdapat pula di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi sebanyak 3000 yang disimpan sebagai koleksi duplikat. Plasma nutfah ini terdiri dari varietas padi lokal, galur harapan, galur-galur elit, varietas unggul, introduksi dan spesies padi liar.
Sebagian besar dari koleksi plasma nutfah padi ini telah dikarakterisasi dan dievaluasi terhadap cekaman biotik dan abiotik seperti hama wereng coklat, ganjur, penyakit blas, hawar daun bakteri, hawar daun jingga, daun bergaris putih dan keracunan terhadap Fe dan Al dan kekeringan. Karakterisasi dilakukan secara konvensional dan molekular. Data hasil karakterisasi dan evaluasi direkam dalam database. Hal ini dimaksudkan agar para pemulia dapat dengan mudah memanfaatkan plasma nutfah sebagai sumber gen dalam perakitan maupun perbaikan sifat varietas padi unggul dalam program pemuliaan padi dan untuk memudahkan para pengguna untuk mendapatkan material dan informasi. Hingga tahun 2007 jumlah varietas unggul yang dilepas lebih dari 175 yang terdiri dari padi sawah dataran rendah dan dataran tinggi, ketan, padi gogo, padi rawa dan pasang surut dan padi hibrida. Keragaman varietas unggul yang dilepas ditujukan agar para petani dapat menggunakan varietas yang diinginkan sesuai dengan ekosistem ataupun kebutuhan lahan yang dimiliki.
Peningkatan produksi padi yang akhir-akhir ini diterapkan dalam program “Peningkatan Produksi Beras Nasional” (P2BN) dua juta ton ditindaklanjuti dengan peningkatan program pemuliaan padi dengan menggunakan sumber gen yang lebih luas lagi disamping sumber gen yang telah digunakan selama ini. Beberapa sumber gen penting yang dapat digunakan sebagai tetua persilangan.
PENGELOLAAN PLASMA NUTFAH
Pengelolaan Sumber Daya Genetik Padi meliputi beberapa kegiatan :
- Eksplorasi dan koleksi Eksplorasi dan pengumpulan sumber daya genetik atau plasma nutfah telah dilakukan di seluruh propinsi di Indonesia namun masih ada daerah-daerah yang sulit dijangkau seperti daerah rawa, pasang surut dan padi liar di hutan.
- Karakterisasi Plasma Nutfah
Karakterisasi dilakukan secara konvensional dan molekuler. Rejuvenasi dan karakterisasi bertujuan untuk memperbaharui aksesi dengan daya tumbuh <80% dan mengkarakterisasi sifat-sifat agronomi dan morfologi. Karakterisasi morfo-agronomik didasarkan pada standar penilaian internasional IRRI yang dilakukan pada fase pertumbuhan tanaman di lapangan atau rumah kaca selama periode vegetatif dan generatif. Sifat tanaman sangat bervariasi misal tanaman pendek dan berumur genjah seperti varietas Rp 1837 (Reg. 20625), Seribu Gantang (Reg. 20630), Ilang (Reg. 20631), Nona Bokra (Reg. 20641), Ketan Sadane (Reg. 20648), Mentik Urang (Reg. 20658), dan Sipulo Mandailing (Reg. 20683)
- Evaluasi Plasma Nutfah
Evaluasi ketahanan/toleransi terhadap hama, penyakit dan lahan bermasalah dilakukan untuk mempermudah pemanfaatannya. Karakterisasi dan evaluasi dilakukan berdasarkan standard internasional dengan sistem yang sudah baku seperti yang dilakukan Bank Gen padi IRRI (International Rice gene Bank Collection Information Institute = IRGCIS)
- Konservasi
Benih-benih hasil eksplorasi setelah diuji daya tumbuhnya dan diperbanyak/direjuvenasi segera diproses dan dikeringkan sampai kadar air 5-7%. Benih kemudian dipak dalam kantong aluminium foil.
Pelestarian Plasma Nutfah padi dilakukan secara ek-situ yaitu dengan menyimpan di ruang dingin pada temperatur -180C sampai -200C untuk jangka panjang, 00-50C untuk jangka menengah dan 10-15°C untuk jangka pendek. Untuk mengetahui viabilitas benih, dilakukan pengujian daya tumbuh secara berkala. Benih yang mempunyai daya tumbuh <80% akan segera direjuvenasi untuk mendapatkan benih-benih baru. Ketersediaan benih dalam jumlah cukup dan pada kondisi baik merupakan hal penting dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya genetik.
- Dokumentasi, Pertukaran Material dan Informasi
Dokumentasi dilakukan mulai dari hasil eksplorasi dan koleksi plasma nutfah, rejuvenasi, perbanyakan, karakterisasi, evaluasi, konservasi, dan pemanfaatannya, sampai penyebarluasannya dan pertukaran informasi kepada para pengguna, dan disimpan dalam database.
PEMANFAATAN PLASMA NUTFAH
Sumber daya genetik padi pada setiap daerah berbeda dan khas. Hal ini merupakan suatu potensi yang bernilai tinggi bagi daerah apabila dikembangkan. Contoh sumber daya genetik padi yang berkembang seperti beras Rojolele (Delanggu), beras Cianjur di Cianjur, beras Ramos dan Kuku Balam dari Sumatera Utara, Mentik di Jawa Tengah dan padi Mayas di Kalimantan Timur.
Sumber daya genetik ini lebih banyak digunakan sebagai tetua dalam persilangan untuk menciptakan varietas unggul.
Random Sampling
Tiap sifat organisma hidup dikendalikan oleh sepasang "faktor keturunan". Pada waktu itu Mendel belum menggunakan istilah "gen".
• Tiap pasangan faktor keturunan menunjukkan bentuk alternative sesamanya, kedua bentuk alternatif disebut pasangan ALELA.
• Satu dari pasangam alela itu dominan dan menutup alela yang resesif
bila keduanya ada bersama-sama.
• Pada pembentukan "gamet" alela akan memisah, setiap gamet menerima satu faktor alela tersebut c dikenal sebagai HUKUM PEMISAHAN MENDEL atau PRINSIP SEGREGASI SECARA BEBAS.
• INDIVIDU MURNI mempunyai dua alela yang sama (homozigot), alel
dominan diberi simbol huruf besar sedang alel resesif huruf kecil.
GENOTIP adalah komposisi faktor keturunan (tidak tampak secara fisik).
FENOTIP adalah sifat yang tampak pada keturunan.
Pada hibrida atau polihibrida berlaku PRINSIP BERPASANGAN SECARA BEBAS. RATIO FENOTIP (F2) HIBRIDA NORMAL MENURUT MENDEL
Monohibrida3: 1 (Hukum Dominasi penuh) n= 1, jumlah gamet = 2
Dihibrida 9: 3: 3: 1n= 2, jumlah gamet = 4
Trihibrida 27: 9: 9: 9: 3: 3 : 3: 1 n= 3, jumlah gamet = 8
Polihibrida (3:1)n n= n, jumlah gamet = 2n (n) = jenis sifat berbeda (hibridanya).
Intermediat 1 : 2 : 1 ——> sifat "SAMA DOMINAN"; percobaan pada bunga Antirrhinum majus.
BACK CROSS ——> perkawinan antara F2 dengan salah satu indukanya
TEST CROSS ———> perkawinan antara F2 dengan induk atau individu yang homozigot resesif
PENYIMPANGAN SEMU HUKUM MENDEL
Sebenarnya masih mengikuti hukum Mendel ———> alel berinteraksi. Dikenal beberapa bentuk ———> Ratio fenotip F2)
1. INTERAKSI PASANGAN ALELA pada varitas ayam ——> 9 : 3 : 3 : 1
2. POLIMERI (Nielson-Echle) pada varitas gandum ——> 15 : 1. Polimeri pada manusia misalnya peristiwa pigmentasi kulit.
3. KRIPTOMERI pada tanaman "pukul empat" (Mirabilis jalapa) percobaan pada Linaria maroccana ———> 9 : 3 : 4
4. EPISTASIS & HIPOSTASIS pada varitas gandum———> 12 : 3 : 1
5. KOEPISTASIS pada Lathyrusodoratus ———> 9 : 7 (Lathyrus odoratus = varitas ercis yang berbiji manis)
POLIMERI adalah pembastaran heterozigot dengan banyak sifat beda yang berdiri sendiri-sendiri tetapi mempengaruhi bagian yang same dari suatu organisme.
KRIPTOMERI adalah pembastaran heterozigot dengan adanya sifat yang "tersembunyi" (Kriptos) yang dipengaruhi oleh suatu keadaan, pada bunga Linaria maroccana adalah pH air sel.
EPISTASIS adalah faktor pembawa sifat yang menutup pemunculan sifat yang lain sekalipun sifat tersebut dominan
HIPOSTASIS adalah faktor yang tertutupi oleh faktor lain.
ATAVlSME adalah sifat yang hipostasis pada suatu keturunan yang pada suatu seat muncul kembali (reappearence).
Pengujian kesehatan benih
Adapun tujuan pengujian benih adalah untuk mengetahui mutu kualitas pada suatu jenis benih dari kelompoknya. Benih bermutu merupakan Melakukan Pengujian Benih benih berkualitas yang memiliki standar mutu baik secara fisik, fisiologis, dan genetis yang berlaku secara internasional yang ditetapkan oleh Internasional Seed Testing Association (ISTA).
Aspek pengujian benih yang dibahas dalam modul ini ditekankan pada mutu fisik benih dan mutu fisiologis benih. Aspek pengujian mutu fisik benih dilakukan terhadap kemurnian benih dan kadar air benih, sedangkan aspek pengujian mutu fisiologi benih dilakukan terhadap daya kecambah dan kekuatan tumbuh (vigor) benih.
Kemampuan motorik/psikomotorik skills dalam pendidikan berbasis kompetensi merupakan salah satu aspek kompetensi yang harus dipenuhi sesuai standar/Performance Criteria. Pada level dua program pembelajaran di SMK, Psikomotorik Skill dan Knowledge Skill merupakan sasaran utama yang akan dibentuk dalam kegiatan belajar siswa diarahkan untuk membentuk psikomotorik skills sekaligus menekankan pada penguasaan pengetahuan. Adapun strategi yang harus ditempuh siswa adalah, berlatih melakukan sesuatu pekerjaan dengan kaidah yang benar sampai dicapai unjuk kerja dengan tingkat presisi yang tinggi dengan berlandaskan kepada pengetahuan yang telah dikuasainya. Pengembangan motorik skills sampai mencapai mastery dapat dilakukan pada kegiatan produksi secara berulang-ulang, sehingga bekerja sesuai kaidah harus menjadi budaya dalam hidupnya.
Kesehatan benih merupakan salah satu syarat benih bermutu. Benih yang telah disertifikasi oleh lembaga sertifikasi (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih) akan mempunyai mutu yang baik. Benih dikatakan bermutu bila benih tersebut memiliki tiga persyaratan mutu, yaitu bermutu dari aspek:
• Fisik (ukuran, permukaan kulit, berisi, tidak cacat)
• Fisiologis (daya berkecambah)
• Genetik ((berasal dari induk yang unggul)
Dari ketiga persyaratan benih bermutu tersebut, kesehatan benih tergolong ke dalam aspek fisiologis karena hasil uji kesehatan dapat memberikan informasi penyebab rendahnya daya berkecambah benih.
Benih merupakan komponen penting dalam perdagangan dunia dan didistribusikan secara luas baik dalam skala nasional maupun regional untuk keperluan budidaya tanaman. Status lot benih yang sehat akan memberikan keuntungan bagi usaha tani. Produsen akan mudah memasarkan benih yang dimilikinya karena konsumen menerima produk benih yang dipasarkan tersebut.
Benih yang diuji kesehatannya memberikan informasi mengenai status lot benih yang akan dipasarkan sebagai komoditas profitable. Informasi yang dikumpulkan dalam kegiatan pengujian kesehatan benih adalah persentase benih terinfeksi terhadap benih yang diujikan. Informasi hasil pengujian kesehatan benih digunakan sebagai dasar perlakuan terhadap lot benih yang diuji, salah satunya adalah saran perawatan benih. Benih yang diketahui status kesehatannya akan memberikan jaminan bagi kualitas benih tersebut, dengan demikian pemahaman dan keterampilan dalam menguji kesehatan benih sangat penting untuk dikuasai oleh peserta diklat.
Salah satu kunci keberhasilan usaha perbenihan adalah status kesehatan lot benih. Kesalahan informasi mengenai status kesehatan lot benih sangat merugikan dalam hal perlakuan yang diberikan terhadap lot benih yang bersangkutan, oleh karena itu kompetensi Menguji Kesehatan Benih sangat penting untuk dipelajari. Hal-hal yang perlu dipelajari yaitu menentukan metode pengujian, melakukan pegujian benih, dan melakukan evaluasi hasil pengujian.
B. Tujuan
Tujuan dilakukannya praktik pengujian kesehatan benih ini antara lain :
a. Mahasiswa/i dapat mengetahui prosedur dalam melakukan kegiatan pengujian kesehatan benih.
b. Mahasiswa/i dapat menyiapkan alat dan bahan dalam pengujian kesehatan benih.
c. Mahasiswa/i dapat memiliki wawasan yang luas didalam pengetahuan pengujian kesehatan benih.
d. Mahasiswa/i dapat megetahui jenis pathogen yang terdapat pada benih.
A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Tempat dan waktu pelaksanaan dilakukannya praktik pengujian kesehatan benih antara lain :
- Tempat : Laboratorium Pengujian Mutu Benih Vedca Cianjur
- Tanggal : Dilakukan pada tanggal 25- 04-2009 dan 30-04-2009
- Waktu : Pada jam 08.00 – 11:00 Wib.
B. Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang dibutuhkan dalam uji kesehatan benih dengan metode kertas antara lain :
Alat dan Bahan :
- Cawan petri steril/bak pengecambahan
- Kertas yang digunakan bisa kertas blotter/kertas filter sebanyak 1-3 lembar
- Pinset
- Plastik wrapping
- Contoh benih yang akan diuji, yang telah direndam dengan larutan bayclin 1% selama 10 menit dan akuades selama 10 menit
- Aquades steril.
Alat dan Bahan yang dibutuhkan dalam uji kesehatan benih dengan metode Agar antara lain :
Alat dan Bahan :
- Cawan petri dengan beberapa ukuran diameter (ø 9 cm dan 12 cm)
- Laminar air flow (ruang transper/ruang penanaman)
- Ruang inkubasi
- Plastik wrapping
- Pinset steril
- Desinfektan (larutan Natrium (Sodium) hipochlorit (NaOCl2 1%) atau bayclin 1% (khusus untuk benih kacang-kacangan yang mengandung protein tinggi, yang rentan dirusak/ditumbuhi oleh jamur saprofitik), untuk benih wortel, padi, bunga matahari, kubis-kubisan tidak dilakukan desinfektan
- Alkohol 70 %, 96 %
- Larutan garam 2,4 Diclorophenoxy acetate (2,4 D) 0,2 % (diberikan 1-2 tetes/cawan untuk menghambat perkecambahan benih uji)
- asam laktat 10% sebanyak 1-2 tetes/cawan untuk mencegah pertumbuhan bakteri
- media PDA steril
- Jas lab dan masker
- Mikroskop
- Kaca obyek dan kaca penutup
- Jarum preparat
C. Prosedur/ Langkah Kerja
Pengujian kesehatan benih dengan metode kertas antara lain :
a. Ambil contoh kerja benih sebanyak 400 butir secara acak, campur merata, kemudian taruh dalam kain kasa, ikat agak kendor, selanjutnya rendam benih dalam larutan Bayclin atau NaOCl2 1 %, selama 10 menit kemudian angkat, direndam dengan akuades selama 10 menit dan tiriskan
b. Ambil 1-3 lembar kertas blotter/kertas filter dan celupkan dalam air/aquades steril (kelembaban ± 70 %), kemudian letakkan dalam cawan petri atau bak pengecambahan
c. Taburkan benih yang akan diuji di atas cawan petri, jumlah benih dalam tiap cawan petri dapat 10 atau 25butir! (tergantung dari ukuran benih dan diameter cawan petri yang digunakan). Untuk mencegah kontaminasi bagi benig lain, maka jarak antar benih minimal 2 cm. Untuk benih berukuran kecil seperti cabe, tomat, kacang hijau, kacang kedelai, kangkung, tidak boleh lebih dari 10 butir per cawan petri ø 9 cm (sehingga membutuhkan 40 cawan petri untuk 400 butir benih) dan untuk benih berukuran besar seperti kacang panjang, jagung tidak boleh lebih dari 25 butir per cawan petri ø 12 cm (sehingga membutuhkan 16 cawan petri untuk 400 butir benih)
d. Inkubasikan benih dalam cawan petri tersebut dengan suhu 20±2 oC selama 5-7 hari,
e. Setelah inkubasi selesai, amati jamur yang tumbuh di sekitar benih dan hitung persentase benih yang terinfeksi sesuai rumus
Pengujian kesehatan benih dengan metode agar :
a. Ambil contoh kerja benih sebanyak 400 butir secara acak, campur merata, kemudian taruh dalam kain kasa, ikat agak kendor, selanjutnya rendam benih dalam larutan Bayclin atau NaOCl2 1 %, kemudian angkat, cuci/direndam dengan akuades dan tiriskan
b. Masukkan media agar PDA dalam cawan ± 5-6 mL (sampai media menutupi dasar cawan secara merata), secara aseptik dalam laminar air flow, sebelum dingin beri 1-2 tetes asam laktat 10%, untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang lebih cepat daripada jamur), dan 1-2 tetes Larutan garam 2,4 Diclorophenoxy acetate (2,4 D) 0,2 % untuk menghambat perkecambahan benih uji.
c. Cawan digoyang-goyang supaya asam laktat merata, cawan dibiarkan terbuka, supaya uap panasnya keluar, setelah dingin cawan ditutup.
d. Taburkan benih yang telah ditiriskan tersebut secara aseptik pada media agar dalam cawan petri di laminar air flow (tiap cawan petri dapat diisi 10 atau 25 butir benih/tergantung dari ukuran benih dan diameter cawan petri yang digunakan). Untuk mencegah kontaminasi antar benih, maka jarak antar benih satu dengan benih lain minimal 2 cm. Untuk benih berukuran kecil seperti cabe, tomat, kacang hijau, kacang kedelai, kangkung, tidak boleh lebih dari 10 butir per cawan petri ø 9 cm (sehingga membutuhkan 40 cawan petri untuk 400 butir benih), dan untuk benih berukuran besar seperti kacang panjang, jagung tidak boleh lebih dari 25 butir per cawan petri ø 12 cm (sehingga membutuhkan 16 cawan petri untuk 400 butir benih)
e. Inkubasikan benih yang telah ditabur pada suhu 20-25oC
f. Setelah inkubasi selama 5-7 hari, kemudian amati jamur yang tumbuh di sekitar benih dan hitung persentase benih yang terinfeksi sesuai rumus.
III. Hasil Pengamatan
A. Hasil Pengamatan pengujian kesehatan benih dengan metode kertas antara lain :
Tabel 1. Pengamatan Metode Kertas
Ulangan ∑ Contoh kerja ∑ Benih terinfeksi % benih Rata”% benih terinfeksi Selisih Toleransi
1 100 19 19
30,5
31
18
2 100 27 27
3 100 50 50
4 100 26 26
Tabel 2. Pengamatan Metode Kertas sesuai dengan jenis jamurnya.
Ulangan ∑ Contoh kerja Rata”% Selisih Kisaran maksimum
A B C D E A B C D E A B C D E
I
II
III
IV 100
100
100
100 8 7 - 2 2
10 3 1 2 11
32 7 - 5 2
21 2 - 2 1 8 7 - 2 2
10 3 1 2 11
32 7 - 5 2
21 2 - 2 1 18 5 0 3 4 A=24
B=5
C=1
D=3
E=10 15
8
-
6
7
Ket :
A= Putih Tipis
B= Putih Tebal
C= Putih Meruncing
D= Hitam
E=Kuning Kehijauan
IV. Pembahasan dan Kesimpulan
Dari hasil yang didapat bahwa pada media kertas dari setiap ulangan memiliki jenis jamur / pathogen yang berbeda. Dari setiap jenis yang ada ada beberapa jenis pathogen antara lain pathogen yang berwarna putih tipis, putih tebal, kuning kehijauan, dan jenis yang lainnya.
Dan dapat kita prediksi bahwa pathogen ini adalah pathogen yang terbawa dari luar benih., yaitu pada saat benih diproses dilapangan.
Untuk media agar tidak dilakukan pencatatan hasil yang terjadi pada benih tersebut. Dan dapat dilihat bahwa dengan menggunakan metode kertas juga efektif dilakukan untuk mengetahui jenih dari pathogen yang ada.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian kesehatan benih
Berat contoh kirim yang diperlukan untuk uji kesehatan benih sama dengan berat contoh kirim untuk pengujian rutin (analisis kemurnian fisik benih), misal padi 700 gram, cabe 150 gram.
Sedangkan contoh kerja (benih yang diuji) minimal 400 butir yang terdiri atas 4 ulangan, diambil dari benih hasil analisis kemurnian fisik benih
Untuk mendapatkan contoh kerja dari contoh kirim dilakukan dengan metode sendok atau paruh tangan (khusus untuk uji kesehatan benih untuk menjaga segala kemungkinan kontaminasi silang antar contoh benih)
Contoh kirim harus dikemas dan dikirim dalam keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya perubahan status kesehatan benih
Pengujian dilakukan pada hari saat contoh kirim benih diterima, apabila hal ini tidak dapat dihindari, maka contoh benih harus disimpan di tempat kedap udara, pada ruang dingin dengan kelembaban < 70%, agar tidak terjadi perubahan mutu benih
Pengujian kesehatan benih dilakukan pada contoh kirim benih tanpa perlakuan bahan kimia (kalau menggunakan bahan kimia harus dihilangkan dulu bahan kimianya, karena dapat menghambat pertumbuhan patogen target, sehingga hasil uji kesehatan benih menjadi tidak valid)
Agar benih yang terpilih sebagai contoh benih uji mewakili keseluruhan contoh benih, maka dilakukan pencampuran secara merata dan pengambilan contoh benih uji dengan seed counter.
Beberapa gambar dari pengujian kesehatan benih dengan menggunakan metode kertas.
